Budaya Jawa Gempa di Bulan Ruwah Dimaknai sebagai Pengingat Sosial, Ajak Masyarakat Lebih Eling dan Waspada

Penulis : Rizma N.A.

Insani Media

Ilustrasi Primbon JawaBlitar, insanimedia.id – Gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Pacitan pada Selasa (27/1/2026) pagi dan dirasakan hingga Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Bali. Gempa bumi ini tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga dimaknai sebagai pengingat diri dalam perspektif budaya Jawa.

Terlebih, gempa tersebut terjadi pada bulan Ruwah, bulan yang dalam tradisi Jawa lekat dengan refleksi, doa, dan kewaspadaan. Dalam sudut pandang budaya, Budayawan Ki Suwarso menilai peristiwa gempa, terlebih terjadi pada pagi hari di bulan Ruwah kerap dimaknai leluhur sebagai isyarat etis, bukan ramalan bencana.

“Kalau secara ilmiah, itu kejadian biasa, bumi sedang menyeimbangkan diri. Tapi dari sisi tinggalan leluhur, kita diingatkan untuk lebih mengenal diri dan alam, rendah hati, sabar, dan tetap low profile,” ujar Ki Suwarso.

Ia menambahkan, dalam pemaknaan budaya Jawa, gempa pagi hari sering dikaitkan dengan peringatan agar masyarakat lebih waspada terhadap potensi fitnah, perselisihan, dan konflik sosial. Meski demikian, Ki Suwarso menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.

“Ini hanya pendapat, karena tidak bisa diverifikasi. Tapi setidaknya ada sisi positifnya, sebagai pengingat diri, terlepas benar atau salah,” jelasnya.

Menurutnya, nilai utama dari tafsir budaya bukan pada benar atau tidaknya ramalan, melainkan pada pesan moral yang dikandungnya. Bulan Ruwah dipandang sebagai waktu yang tepat untuk eling, mengingat asal-usul dan keterbatasan manusia, serta waspada dalam sikap, ucapan, dan tindakan di ruang sosial.

Dengan demikian, gempa yang terjadi di bulan Ruwah ini dapat dibaca dalam dua lapis makna: secara ilmiah sebagai dinamika alam yang wajar, dan secara kultural sebagai ajakan untuk menata batin, menahan ego, serta menjaga harmoni sosial di tengah kehidupan yang terus bergerak.

Baca Juga :  Pemkot Blitar Siapkan Perbaikan 129 Rumah Tidak Layak Huni