insanimedia.id – Usia 79 tahun bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali identitas dan memperkuat peran historisnya bagi umat dan bangsa. Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI lahir dari kesadaran intelektual dan kegelisahan sejarah atas kondisi umat Islam dan masa depan Indonesia yang baru merdeka.
HMI hadir bukan hanya sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi sebagai gerakan nilai yang memadukan keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan nafas perjuangan. Identitas HMI sejatinya terletak pada Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang menjadi fondasi ideologis dan moral gerakan.
Keislaman dalam HMI bukanlah Islam yang eksklusif dan tertutup, melainkan Islam yang rasional, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Sementara keindonesiaan HMI bukanlah nasionalisme sempit, melainkan komitmen kebangsaan yang berpijak pada keadilan sosial, persatuan, dan cita-cita kemerdekaan. Di sinilah HMI menemukan posisinya sebagai jembatan antara iman, ilmu, dan realitas sosial.
Dalam lintasan sejarah, HMI telah membuktikan perannya sebagai kawah candradimuka kader umat dan bangsa. Banyak tokoh nasional lahir dari rahim HMI dan berkiprah di berbagai sektor strategis—politik, birokrasi, pendidikan, ekonomi, hingga gerakan sosial. Namun, kontribusi terbesar HMI bukan semata pada tokoh-tokohnya, melainkan pada tradisi intelektual dan kaderisasi yang terus dirawat. HMI mengajarkan kadernya untuk berpikir kritis, bersikap independen, dan berani mengambil posisi moral di tengah dinamika zaman.
Di usia ke-79 ini, tantangan yang dihadapi HMI semakin kompleks. Perubahan sosial yang cepat, disrupsi teknologi, krisis kepercayaan publik, serta menguatnya pragmatisme politik menjadi ujian serius bagi eksistensi organisasi. Di sisi lain, problem keumatan seperti ketimpangan ekonomi, degradasi moral, dan lemahnya literasi keagamaan yang moderat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dalam konteks kebangsaan, polarisasi sosial, melemahnya solidaritas, dan krisis kepemimpinan menuntut kehadiran kader-kader yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan.
Meneguhkan identitas HMI berarti mengembalikan orientasi gerakan pada nilai, bukan sekadar simbol. Keislaman HMI harus tercermin dalam etika kader, cara berpikir, dan sikap sosial yang membawa rahmat bagi lingkungan sekitarnya. Keindonesiaan HMI harus tampak dalam keberpihakan pada kepentingan rakyat, komitmen terhadap demokrasi, serta keberanian melawan ketidakadilan. Tanpa peneguhan identitas ini, HMI berisiko kehilangan ruh perjuangannya dan terjebak dalam rutinitas organisasi yang kering makna.
Memperkuat peran keumatan dan kebangsaan juga menuntut revitalisasi kaderisasi sebagai jantung gerakan. Kaderisasi HMI tidak boleh berhenti pada aspek formal dan administratif, tetapi harus mampu melahirkan kader yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial. Diskursus keislaman perlu dikembangkan secara kontekstual dan progresif, sementara kajian kebangsaan harus diarahkan pada solusi konkret atas persoalan bangsa. Dengan demikian, HMI tetap relevan sebagai laboratorium pemikiran dan aksi perubahan.
Selain itu, HMI perlu memperluas ruang pengabdian sosial sebagai manifestasi nyata dari peran keumatannya. Isu pendidikan, pemberdayaan masyarakat, advokasi kebijakan publik, dan penguatan ekonomi umat merupakan medan strategis bagi kader HMI untuk hadir dan berkontribusi. Di tengah krisis multidimensi yang dihadapi bangsa, HMI dituntut tidak hanya lantang dalam wacana, tetapi juga nyata dalam kerja-kerja sosial yang berdampak.
Dies Natalis ke-79 ini harus dimaknai sebagai titik tolak pembaruan gerakan. HMI perlu berani melakukan otokritik, menata ulang orientasi, dan memperkuat konsolidasi internal tanpa kehilangan independensi.
Kesetiaan pada nilai harus berjalan seiring dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Dengan begitu, HMI tidak sekadar bertahan sebagai organisasi tua, tetapi terus hidup sebagai gerakan muda yang progresif dan visioner.
Akhirnya, 79 tahun HMI adalah tentang merawat warisan nilai dan menyiapkan masa depan perjuangan. Meneguhkan identitas dan memperkuat peran keumatan serta kebangsaan bukan pilihan, melainkan keharusan historis. Selama HMI setia pada nilai keislaman dan keindonesiaannya, selama itu pula HMI akan tetap relevan sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial bagi umat dan bangsa.




