Petani Sidoarjo Masih Terkendala Alat, DPR RI Salurkan Alsintan untuk Kejar Swasembada Pangan

SIDOARJO, insanimedia.id-Keterbatasan alat dan mesin pertanian masih menjadi persoalan utama yang dihadapi petani di Kabupaten Sidoarjo. Luasnya lahan produktif yang mencapai sekitar 18 ribu hektare belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan peralatan modern, sehingga proses olah tanah hingga pascapanen kerap memakan waktu lama dan biaya tinggi.

Kondisi tersebut dinilai menghambat upaya peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperlambat siklus tanam petani. Menjawab persoalan itu, Anggota DPR RI Komisi VII, Bambang Haryo Soekartono, menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani di Sidoarjo.

Bantuan yang diserahkan meliputi 4 unit traktor roda empat, 2 unit excavator rotavator, serta 12 unit hand traktor. Alsintan tersebut diharapkan mampu menjadi solusi atas kendala pengolahan lahan yang selama ini dihadapi petani, khususnya setelah masa panen.

“Petani kita sering terkendala waktu dan tenaga karena alatnya terbatas. Padahal Sidoarjo masih punya lahan hijau yang cukup luas, sekitar 18.000 hektare. Kalau peralatannya memadai, produktivitas pasti bisa ditingkatkan,” ujar Bambang Haryo, Kamis 12 Februari 2026.

Menurutnya, modernisasi alat pertanian menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak tertinggal dan mampu beradaptasi dengan tantangan pertanian saat ini. Penggunaan alsintan dinilai dapat mempercepat pengolahan lahan, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan efisiensi kerja petani.

“Dengan alat yang lebih modern, petani bisa lebih cepat menyiapkan lahan dan masuk ke musim tanam berikutnya. Ini penting untuk mengejar target swasembada pangan,” tegasnya.

Bambang juga merinci bahwa total bantuan alsintan yang disalurkan terdiri dari berbagai jenis yang selama ini paling dibutuhkan petani di lapangan. Mulai dari traktor roda empat hingga hand traktor untuk pengolahan lahan skala kecil dan menengah.

Selain komoditas padi, Bambang menilai sektor pertanian Sidoarjo juga menghadapi tantangan dalam pengembangan tebu. Padahal, tebu memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi daerah dan menopang keberlangsungan pabrik gula yang pernah berjaya di masa lalu.

Baca Juga :  Mensos Saifullah Yusuf Ajak Pendamping Sosial Perkuat Pengentasan Kemiskinan

“Bukan hanya padi, tebu juga perlu didorong. Ini
bisa menjadi kekuatan ekonomi pertanian Sidoarjo jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo, Eny Rustianingsih, mengakui bahwa keterbatasan alsintan selama ini menjadi salah satu hambatan pengembangan kawasan pertanian, khususnya di wilayah barat Sidoarjo.

“Alhamdulillah kami mendapat dukungan dari Pak Bambang. Wilayah barat ini potensinya besar, tapi memang butuh dukungan alat agar petani lebih optimal,” kata Eny.

Ia menjelaskan, wilayah tersebut masuk dalam program Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang kedepan akan diperkuat menjadi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dengan tambahan alsintan, kesiapan petani menghadapi musim tanam berikutnya diharapkan semakin baik.

“Total ada 26 unit mesin pertanian yang kami terima. Ini sangat membantu petani dan menjadi penguatan nyata bagi kawasan cadangan pangan di Sidoarjo,” pungkasnya.

Melalui bantuan alsintan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap berbagai kendala teknis yang dihadapi petani dapat teratasi, produktivitas pertanian meningkat, dan Sidoarjo semakin siap berperan sebagai salah satu penyangga pangan utama di Jawa Timur.