Potensi Umrah Ramadhan 2026 Diprediksi Sangat Tinggi: Momentum Emas Secara Spiritual dan Strategis bagi Industri Umrah

Ulul Albab Ketua Litbang DPP Amphuri

Surabaya — Ramadhan 1447 H / 2026 M ini insyaalloh masih berada pada musim dingin di Arab Saudi. Ini tentu membuka peluang besar bagi peningkatan minat jamaah umrah dari berbagai segmen. Kondisi ini dinilai sebagai momentum strategis yang tidak hanya menguatkan pengalaman spiritual jamaah, tetapi juga menghadirkan peluang signifikan bagi penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU).

Menurut Ulul Albab, Ketua Litbang DPP Amphuri, sejumlah faktor menunjukkan bahwa Umrah Ramadhan 2026 berpotensi mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Faktor Musim: Ramadhan Lebih Nyaman

Ramadhan 2026 diprediksi berlangsung pada suhu yang lebih sejuk dengan durasi puasa sekitar 12–13 jam. Kondisi ini dinilai memberikan kenyamanan fisik yang lebih baik bagi jamaah, terutama lansia, keluarga, serta jamaah yang baru pertama kali melaksanakan umrah. Pengalaman ibadah malam hari juga diperkirakan lebih optimal karena suhu yang relatif bersahabat.

Momentum Spiritual yang Konsisten Tinggi

Dari sisi religiusitas, umrah di bulan Ramadhan selalu memiliki daya tarik luar biasa. Hadits yang menyebutkan bahwa umrah di bulan Ramadhan bernilai seperti haji (dalam pahala) terus menjadi magnet utama yang menguatkan motivasi jamaah, sekaligus mempengaruhi dinamika pemasaran travel haji dan umrah.

Pemerintah Arab Saudi menunjukkan kesiapan lebih awal dalam pengelolaan musim ibadah. Indikasi ini terlihat dari proses visa haji 2026 yang sudah dimulai sejak awal Februari. Digitalisasi layanan melalui platform Nusuk diprediksi semakin dominan, disertai peningkatan manajemen kepadatan jamaah di Masjidil Haram.

Indikasi Permintaan Pasar yang Stabil Tinggi

Sejumlah paket Umrah Ramadhan 2026 telah dipasarkan sejak awal tahun dengan kisaran harga sekitar Rp40 jutaan. Pergerakan seat availability yang cepat menunjukkan bahwa permintaan pasar tidak mengalami penurunan, bahkan cenderung stabil tinggi.

Baca Juga :  Benarkah Malam 27 adalah Turunya Lailatul Qadar?

Kesimpulan Strategis

Dari perspektif praktisi dan akademisi, Ramadhan 2026 diproyeksikan menjadi periode yang ramai namun lebih nyaman secara fisik, dengan target market yang semakin luas. Kompetisi antar travel diprediksi meningkat, sehingga inovasi konsep layanan menjadi faktor pembeda utama.

Tips Umrah Ramadhan: Perspektif Praktisi & Akademis

Dalam menghadapi kepadatan musim Ramadhan, jamaah disarankan menerapkan manajemen waktu ibadah yang bijak, seperti memilih waktu thawaf pada malam hari atau menjelang sahur serta menghindari jam puncak sebelum berbuka. Strategi menjaga energi saat puasa juga menjadi hal krusial, termasuk menjaga hidrasi saat sahur dan iftar serta mengatur aktivitas fisik di siang hari.

Perlengkapan sederhana seperti sandal empuk, payung, kacamata hitam, dan tas kecil anti-air sangat membantu mobilitas jamaah. Selain itu, aspek spiritualitas perlu mendapat perhatian lebih, dengan mengoptimalkan i’tikaf, qiyamul lail, dan tilawah khususnya pada 10 malam terakhir Ramadhan.

Insight untuk Travel dan Leader

Jamaah Ramadhan memiliki karakteristik yang lebih emosional dan spiritual dibandingkan musim lainnya. Mereka cenderung mencari pengalaman ruhani yang mendalam, bukan sekadar itinerary padat. Oleh karena itu, travel yang berhasil biasanya menghadirkan program tadabbur dan penguatan spiritual, bukan hanya city tour.

Penutup

Ulul Albab menilai Ramadhan 2026 berpotensi menjadi momentum rebound spiritual. Dengan kombinasi musim dingin dan durasi puasa yang lebih pendek, periode ini dapat menjadi fase emas bagi PPIU yang mampu menawarkan konsep “Ramadhan Experience” yang autentik dan bermakna.