Al-Qur’an dan Ketenangan Batin di Tengah Dunia yang Gaduh (EPISODE #01)

Oleh: Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

insanimedia.id – Dunia hari ini tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan ketenangan. Kita hidup di zaman ketika suara semakin bising, tetapi jiwa justru semakin sepi.

Media sosial tidak pernah tidur, berita datang silih berganti, tuntutan hidup kian menekan namun hati manusia modern justru kehilangan tempat untuk menenangkan diri.

Ramadhan tahun ini datang di tengah kegaduhan tersebut. dan karenanya kita mesti pandai-pandai membawa diri dan hati untuk menikmati ramadhan secara benar, hidmat, dan nikmat. Jangan sampai Ramadhan datang sekadar sebagai kalender ibadah tahunan. Harus kita jadikan sebagai undangan Ilahi untuk kita berbenah diri, berbenah hati.

Al-Qur’an tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Justru ketika kita menyatakan beriman kepada Allah maka Allah menurunkan berbagai masalah untuk menguji sejauhmana kita benar-benar menjadi hambaNya. Berdzikir kepadaNya. Dan untuk itu Allah menjanjikan ketenangan batin di tengah ujian badai kehidupan. “Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub. ” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. ar-Ra’d: 28).

Ayat ini sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan. Mengapa hati manusia gelisah? Karena terlalu banyak bergantung pada hal-hal yang rapuh: pengakuan sosial, pencapaian materi, dan validasi sesama. Ketika semua itu goyah, jiwa ikut runtuh Ramadhan mengajak kita kembali kepada pusat ketenangan sejati, yaitu: Allah dan firman-Nya.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi latihan menyederhanakan hidup, agar batin kembali peka. Ketika tubuh dikosongkan dari yang berlebihan, jiwa diberi ruang untuk berbicara. Dan di situlah Al-Qur’an bekerja: sebagai obat bagi hati yang lelah.

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS. al-Isra’ : 82)

Baca Juga :  Karbala dalam Cahaya Ahlus Sunnah: Seri Refleksi Muharram

Banyak orang rajin membaca Al-Qur’an, tetapi belum tentu merasakannya. Karena Al-Qur’an tidak cukup didekati dengan mata dan suara, harus dengan kehadiran batin. Al-Quran bukan hanya dibaca, tetapi didengarkan, seolah Allah sedang berbicara langsung kepada kita.

Di sinilah Ramadhan menjadi momentum penyembuhan. Bukan penyembuhan fisik semata, tetapi juga penyembuhan lukaluka batin yang sering kita sembunyikan, misalnya: kecemasan, rasa gagal, iri hati, kemarahan, dan kelelahan eksistensial.

Ketenangan yang ditawarkan Al-Qur’an bukan ketenangan palsu yang menutup mata dari realitas. Tapi ketenangan yang membuat seseorang tetap berdiri tegak meski dunia tidak baik-baik saja.

Orang yang tenang bukan orang yang hidupnya tanpa masalah, tetapi orang yang tahu kepada siapa ia bersandar saat tertimpa masalah atau bahagia.

Ramadhan mengajarkan, bahwa: tidak semua hal harus dikejar, tidak semua suara harus didengar, dan tidak semua konflik harus dimenangkan. Ada saatnya kita berhenti. Ada waktunya kita diam. Ada momennya kita kembali menjadi hamba.

Jika Ramadhan ini hanya menambah jadwal ibadah tanpa menghadirkan ketenangan batin, maka ada yang perlu kita evaluasi. Karena tanda pertama Ramadhan menyentuh jiwa adalah hati yang lebih lapang, pikiran yang lebih jernih, dan emosi yang lebih terkendali. Al-Qur’an tidak datang untuk membuat hidup terasa berat. Ia hadir untuk meringankan jiwa agar manusia mampu menjalani hidup dengan martabat dan harapan.

Maka, sebelum melangkah lebih jauh dalam Ramadhan ini, mari kita mulai dari sini, Yaitu: menenangkan batin, memperlambat langkah, dan membuka hati. Karena hanya hati yang tenang yang mampu menerima cahaya. Dan hanya jiwa yang hening yang siap dibentuk menjadi pemenang.