Aceh Tamiang, insanimedia.id – Seperti Hiroshima yang menolak menyerah pada kehancuran, napas kehidupan di Aceh Tamiang perlahan mulai tertata kembali pascabencana.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, di sudut Kabupaten Aceh Tamiang, rombongan relawan NU Peduli PCNU Kabupaten Blitar hadir merajut kembali “jantung” pemulihan warga pada Sabtu (21/2/2026) hingga Minggu (22/2/2026).
Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni bantuan, melainkan upaya membasuh duka para penyintas di tengah keterbatasan infrastruktur yang masih menganga.
Fokus pemulihan ini menyasar dua aspek vital yang nyaris lumpuh: pendidikan anak-anak dan kenyamanan ibadah, serta sorotan tajam pada aksesibilitas warga yang masih bertaruh nyawa.
Bertaruh Nyawa di Atas Arus
Realitas paling menohok terekam di perbatasan Desa Sekerak dan Bandar Pusaka. Jembatan Gantung Perintis, satu-satunya akses vital bagi para penyintas, kondisinya membuat siapa pun yang melintas bergidik.
Lantai jembatan yang tak sepenuhnya stabil berayun di atas aliran sungai deras, menjadi saksi bisu perjuangan warga sehari-hari pascabanjir.
Salah satu relawan PCNU Blitar yang mencoba melintasi jembatan tersebut pada Sabtu (21/2), tak kuasa menyembunyikan kekhawatirannya. Pengalaman meniti jembatan ini menjadi tamparan keras mengenai ketimpangan infrastruktur di daerah terdampak.
”Jujur, kaki gemetar saat berada di tengah bentang jembatan. Angin kencang dan ayunan jembatan sangat terasa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak sekolah dan ibu-ibu harus bertaruh nyawa setiap hari lewat sini. Mereka butuh akses permanen, bukan sekadar jembatan darurat,” ungkap salah satu relawan dengan nada tercekat usai berhasil menyeberang.
Kesaksian ini menegaskan bahwa bantuan logistik semata tidak cukup bagi penyintas. Ada hak dasar akan rasa aman yang belum sepenuhnya terpenuhi bagi warga Sekerak dan Bandar Pusaka.
Memulihkan Senyum, Mewarnai Harapan
Di sisi lain, upaya pendampingan psikososial terus digencarkan untuk mengikis sisa kecemasan. Atmi Hapsari, srikandi Fatayat NU Kabupaten Blitar, mengambil peran sentral dalam memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Sasarannya adalah mengembalikan keceriaan anak-anak penyintas yang sempat terenggut oleh bencana.
Puncak kegiatan terlihat pada Minggu (22/2), saat relawan merampungkan rehabilitasi TPQ An-Nashihah di Kecamatan Manyak Payed. Bangunan yang sebelumnya kusam kini bersalin rupa dengan cat baru yang cerah. Tak hanya fisik bangunan, semangat para santri pun dibangkitkan melalui pembagian hadiah spesial yang memancing tawa lepas mereka.
”Anak-anak adalah peniru yang ulung, tapi mereka juga penyimpan memori yang kuat. Tugas kami di sini memastikan memori tentang bencana tidak menutup harapan mereka. Melihat mereka kembali tertawa lepas hari ini, rasanya lelah perjalanan jauh dari Blitar terbayar lunas,” ujar Atmi Hapsari di sela-sela kegiatannya bersama anak-anak.
Dukungan pendidikan juga diperkuat dengan distribusi 20 unit lemari untuk Dayah Fajru Salam, serta pengiriman logistik edukasi Aswaja ke Desa Banai.
Namun, di balik serangkaian bantuan ini, potret hunian warga di bantaran sungai masih menyisakan keprihatinan. Relawan mendapati banyak penyintas yang kini harus bertahan hidup di Huntara (Hunian Sementara) dengan fasilitas terbatas.
”Melihat kondisi huntara di bantaran sungai ini membuat hati teriris. Dari yang sebelumnya punya rumah permanen, kini penyintas harus berdesakan di hunian sementara. Ini fase yang berat bagi warga,” tutur salah satu relawan asal Blitar yang turut memotret kondisi lapangan.
Misi dua hari terkahir relawan NU Peduli Blitar di Aceh Tamiang mungkin telah berlalu, namun jejak cat di dinding TPQ dan lemari di pesantren menjadi monumen kecil persaudaraan.
Di sisi lain, jembatan gantung yang rapuh dan deretan huntara tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara, menanti solusi permanen agar para penyintas tak selamanya hidup dalam kecemasan.







