Blitar, insanimedia.id – Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan peninjauan langsung ke sentra budidaya cabai di kawasan Blitar Selatan, Kabupaten Blitar. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan cabai nasional tetap aman dan stabil.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dr. Muhammad Agung Sunusi, S.P., M.Si., turun ke lapangan dengan mengunjungi lahan cabai di Kecamatan Panggungrejo dan Kecamatan Binangun. Kedua kecamatan tersebut selama ini dikenal sebagai basis utama produksi cabai di Kabupaten Blitar.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut bahwa Kabupaten Blitar memiliki peran penting sebagai salah satu daerah penopang utama cabai di Jawa Timur. Dengan luas lahan mencapai sekitar 6.000 hektare dan rata-rata produktivitas 6 ton per hektare, potensi total produksi cabai di wilayah ini diperkirakan dapat menembus 360.000 ton.
“ Kabupaten Blitar bersama Banyuwangi menjadi penyangga terbesar cabai di Jawa Timur. Karena itu kami ingin memastikan produksinya benar-benar optimal agar stabilisasi pasokan dan harga tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada luas areal tanam, tetapi juga pada penerapan teknik budidaya yang tepat. Penggunaan benih unggul dengan produktivitas tinggi perlu dimaksimalkan. Selain itu, perbaikan kesuburan tanah melalui pemanfaatan pupuk kandang serta pemberian dolomit untuk menjaga keseimbangan unsur hara juga harus dioptimalkan.
Penambahan pupuk KNO3 turut dinilai penting guna mendorong fase generatif tanaman dan pembentukan buah. Menurutnya, praktik teknis tersebut masih belum diterapkan secara maksimal oleh sebagian petani dan perlu mendapat perhatian bersama.
Kementan juga mendorong munculnya petani unggulan atau “champion” di tiap sentra produksi. Sosok ini diharapkan mampu mengatur pola tanam, menjadi motor penggerak di tingkat petani, serta menjadi penghubung komunikasi antara pemerintah daerah dan pusat, termasuk dalam pengelolaan rantai distribusi dari produsen hingga konsumen.
Di sisi lain, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, Ir. Setiyana, M.M., menyampaikan bahwa Blitar Selatan memang menjadi pusat produksi cabai, terutama di Kecamatan Panggungrejo, Binangun, dan Wates, yang didukung oleh kecamatan lain sebagai wilayah penyangga.
Ia mengungkapkan bahwa pada awal hingga pertengahan Maret, sekitar 3.000 sampai 4.000 hektare lahan cabai mulai memasuki masa panen perdana. Perkiraan produksi pada tahap awal tersebut berkisar antara 12 hingga 15 ton per hari.
“Dalam kondisi normal, cabai di Blitar bisa dipanen sampai 20 hingga 25 kali. Namun saat ini sebagian tanaman terdampak hama dan penyakit, sehingga kemungkinan panen berkisar 10 hingga 15 kali. Faktor ketersediaan air juga sangat menentukan,” jelasnya.
Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah, Kabupaten Blitar diyakini mampu terus memperkuat perannya sebagai salah satu penyangga utama cabai nasional sekaligus menjaga kestabilan harga, baik di tingkat petani maupun konsumen.







