Blitar, insanimedia.id – Komunitas Lapak Baca Ceria menggelar diskusi publik bertajuk “Kiamat Ekologi: Membedah Paradox Pembangunan” di Kedai Satu Rasa, Blitar. Para peserta diskusi membahas secara kritis dampak pembangunan yang dinilai mengorbankan lingkungan, terutama akibat aktivitas tambang pasir di sungai dan meningkatnya produksi sampah di wilayah Blitar.
Lapak Baca Ceria menyelenggarakan forum tersebut sebagai ruang diskusi masyarakat untuk mengkritisi arah pembangunan daerah. Para peserta menilai pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologi dapat memicu kerusakan lingkungan yang semakin luas.
Aktivis lingkungan Saipudin membuka diskusi dengan menyampaikan kritik keras terhadap praktik eksploitasi pasir di sejumlah aliran sungai di Blitar. Ia menilai aktivitas penambangan yang berlangsung saat ini telah melampaui batas dan berpotensi merusak sistem ekologi serta ruang hidup masyarakat.
“Pengalaman saya di lapangan menunjukkan pola yang menjijikkan: izin tambang sering kali terbit di atas meja-meja steril yang buta terhadap jeritan ekosistem. Eksploitasi pasir ugal-ugalan di Blitar bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan material, melainkan bentuk perampokan sistematis terhadap infrastruktur alam. Pembangunan yang menghancurkan sungai adalah pengkhianatan terhadap masa depan anak cucu kita,” tegas Saipudin dengan nada getir namun penuh penekanan.
Ia menambahkan bahwa praktik penambangan pasir tanpa pengawasan ketat dapat mempercepat kerusakan lingkungan dan memperbesar risiko bencana di wilayah sekitar aliran sungai.
Dalam diskusi tersebut, Imey Chaterine M. juga memaparkan persoalan lain yang tidak kalah serius, yaitu krisis pengelolaan sampah di Blitar. Ia menyampaikan bahwa produksi sampah di wilayah Blitar Raya terus meningkat dan mulai menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.
“Kita sedang memelihara bom waktu. TPA kita sudah mencapai titik jenuh (overcapacity), namun kebijakan pemda masih berkutat pada metode kumpul-angkut-buang yang primitif. Jika pengelolaan sampah kita tetap alakadarnya tanpa inovasi teknologi dan ketegasan regulasi, maka dalam lima tahun ke depan, Blitar bukan lagi dikenal sebagai kota sejarah, melainkan kota di atas gunungan plastik,” ungkap Imey dengan sorot mata prihatin.
Imey menjelaskan bahwa data terbaru tahun 2026 menunjukkan produksi sampah di wilayah Blitar Raya telah mencapai lebih dari 250 ton per hari. Ia menyebut hampir 40 persen dari total sampah tersebut merupakan sampah plastik yang sulit terurai dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan jangka panjang.
Diskusi yang berlangsung hingga malam hari itu menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk menilai kembali arah pembangunan daerah. Para peserta menilai bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tidak mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menutup diskusi dengan menegaskan peran penting komunitas literasi dalam mengawal kebijakan publik yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
“Lapak Baca Ceria menolak diam melihat normalisasi kerusakan ini. Literasi sejati tidak hanya ada di rak-rak perpustakaan, tapi hadir saat warga mulai berani menggugat eksploitasi yang meminggirkan hak atas lingkungan yang sehat. Suara-suara dari kedai kopi ini adalah alarm bagi penguasa bahwa rakyat sedang mengawasi setiap jengkal tanah dan air yang mereka pertaruhkan,” pungkas Reyda.
Lapak Baca Ceria mengakhiri kegiatan tersebut dengan sesi panggung bebas yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengekspresikan gagasan dan kritik melalui karya. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa ruang diskusi kritis dan gerakan literasi masyarakat di Blitar terus hidup dan berkembang.







