Fakta Resolusi Jihad Bukti Santri Berjuang Bagi Bangsa, Bukan Korban Feodalisme

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Budaya di lingkungan pondok pesantren seperti tradisi berjalan merangkak (ngesot) dan pemberian bingkisan atau amplop saat sowan kini menjadi sorotan tajam publik, diinterpretasikan sebagai praktik feodalisme.

Menanggapi polemik tersebut, podcast Bakul Kumpo yang tayang di YouTube pada Selasa (07/10/2025) lalu meluruskan pandangan ini dengan menekankan peran historis santri.

​Ahmad Ardabilly, salah satu kiai uda Nahdlatul Ulama (NU) di Blitar menjelaskan bahwa aksi takzim seperti ngesot sejatinya merupakan ekspresi rasa penghormatan yang tulus (mahabbah) dan telah menjadi warisan budaya yang mendalam, bukan hasil paksaan atau intimidasi.

Menurutnya, fokus berlebihan pada aspek budaya ini justru mengalihkan perhatian dari kontribusi santri yang jauh lebih fundamental bagi negara.

​Fakta yang perlu diutamakan, lanjutnya, adalah peran santri sebagai pahlawan kemerdekaan. Semangat perjuangan santri dipicu oleh Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari.

Fatwa ini mewajibkan santri untuk angkat senjata dan merupakan motor penggerak utama dalam Perang 10 November di Surabaya.

​Saat itu, santri yang belum terorganisasi secara militer menjadi laskar terdepan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan.

Pengorbanan ini dilakukan atas dasar semangat khidmah (pengabdian) yang mendalam, bukan untuk mendapatkan imbalan.

​Oleh karena itu, narasi yang menuding pesantren sebagai sarang feodalisme dinilai keliru dan tidak adil terhadap sejarah.

Pesantren adalah lembaga yang melahirkan pejuang dengan kesalehan batin, yang konsisten berjuang demi kedaulatan dan kemaslahatan bangsa.

Masyarakat diimbau untuk kembali merujuk pada sejarah demi memahami makna hakiki di balik pengorbanan para santri.(Zul/Rid)

Baca Juga :  Kapolres Blitar Ajak Buka Puasa Bersama Para Santri Al Falah