Blitar, insanimedia.id – Kabupaten Blitar saat ini kekurangan petani dari golongan anak muda, baik milenial dan Gen Z. Anak muda enggan bertani karena dianggap tidak dapat membuahkan hasil yang banyak.
Dampaknya, Kabupaten Blitar saat ini kekurangan petani muda. Bahkan dampaknya di Kabupaten Blitar mulai terasa dampaknya.
Di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, sebagian besar lahan padi dan jagung masih diolah petani berusia lanjut. Kondisi ini membuat regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Setiyana, menyampaikan bahwa minat generasi milenial terhadap tanaman pangan masih rendah. Mereka cenderung memilih hortikultura atau metode hidroponik yang dianggap lebih praktis dan mudah dikelola.
“Petani milenial untuk tanaman pangan itu masih sangat sedikit. Kebanyakan milenial lebih tertarik ke hortikultura dan hidroponik,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran jangka panjang. Tanpa adanya generasi penerus yang menangani tanaman pangan, Blitar dapat menghadapi persoalan serius dalam 10–20 tahun ke depan. Bahkan sektor perdagangan turut berisiko terganggu apabila regenerasi petani tidak berjalan cepat.
Untuk mengantisipasi itu, DKPP mulai mempersiapkan berbagai program yang menyasar anak muda. Salah satu langkahnya adalah menyediakan lahan lapang khusus bagi petani milenial.
Lahan ini dibentuk sebagai ruang belajar, praktik, dan inovasi agar generasi muda memiliki kesempatan nyata untuk terjun ke pertanian.
“Kami berupaya menarik dan mendukung anak muda agar senang menjadi petani. Ini sedang kami pikirkan dan jalankan,” kata Setiyana.
Menurutnya, banyak anak muda memiliki cara pandang modern terhadap pertanian, seperti penggunaan green house dan teknologi budi daya terbaru. Namun minat itu masih belum banyak diarahkan ke sektor pangan, padahal Kabupaten Blitar memiliki potensi alam yang besar. Komoditas pangan menjadi sektor yang mestinya bisa menarik kontribusi generasi muda.
Selain tanaman pangan, DKPP juga menyiapkan program yang mengajak milenial masuk ke komoditas lain seperti bawang merah dan hortikultura. Setiyana berharap langkah tersebut mempercepat proses regenerasi.
“Kami berharap regenerasi petani dapat berjalan lebih cepat sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” katanya







