BLITAR,insanimedia.id-Di sudut Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, suasana mushola Gotong Royong tampak hidup pada Senin dan Jumat malam. Remaja hingga orang tua hilir mudik membawa rebana, bersiap mengikuti latihan hadroh yang kini menjadi denyut baru kegiatan keagamaan di desa itu.
Lantunan sholawat menggema, berpadu dengan tabuhan rebana yang ritmis. Suasana hangat terasa sejak awal latihan, seolah mushola kecil itu menjadi ruang perjumpaan lintas generasi yang disatukan oleh kecintaan kepada Nabi Muhammad.
Kelompok Hadroh Majelis Sholawat Gotong Royong menjadi wadah bagi warga dari berbagai usia. Anggotanya tak hanya remaja hingga orang dewasa. Bahkan, beberapa di antaranya masih berusia sekitar belasan tahun yang mulai belajar memukul rebana dengan penuh semangat.
Meski terbilang baru, berdiri sekitar dua tahun terakhir, kelompok ini menunjukkan perkembangan yang pesat. Penampilan mereka dalam berbagai pengajian kerap memikat perhatian jemaah, menghadirkan suasana khusyuk sekaligus meriah.
Seorang anggota hadroh, safatta adiel nararya, remaja berusia 17 tahun ini mengaku bangga bisa menjadi bagian dari kelompok hadroh tersebut. Ia merasakan banyak perubahan positif sejak bergabung, baik dalam keseharian maupun dalam cara memandang kehidupan. “Saya senang sekali bisa ikut hadroh. Selain belajar musik, saya jadi lebih dekat dengan sholawat dan lebih cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad,” katanya. Jumat (10/4/2026) malam.
Ia juga menambahkan, kegiatan latihan rutin membuatnya memiliki lingkungan pergaulan yang lebih sehat. Waktu luang yang sebelumnya tidak terarah kini diisi dengan aktivitas yang bermanfaat.
Menurut Sapto Ardi Prabowo ketua grup hadroh, kekuatan utama komunitas ini terletak pada kebersamaan. Tidak ada batasan usia maupun latar belakang, semua anggota memiliki tujuan yang sama, yakni bersholawat dan mempererat tali silaturahmi.“Setiap kami tampil, yang kami bawa bukan hanya musik, tapi juga rasa cinta kepada Nabi. Hadroh bagi kami juga sebagai media dakwah,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menegaskan, salah satu tujuan utama dibentuknya hadroh ini adalah untuk mengajak generasi muda agar memiliki kegiatan positif di tengah derasnya pengaruh budaya luar. “Kami ingin anak-anak muda di desa ini tidak mudah terpengaruh budaya yang kurang baik. Lewat hadroh, mereka punya wadah untuk berkembang sekaligus memperkuat nilai keagamaan,” jelasnya.
Komitmen itu diwujudkan dengan latihan rutin setiap pekan serta keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di desa maupun luar daerah. Kelompok ini kerap diundang untuk memeriahkan pengajian dan acara keagamaan lainnya. “Alhamdulillah, kami sudah beberapa kali tampil di berbagai tempat. Dalam waktu dekat, kami juga berencana tampil di Kabupaten Trenggalek,” tandasnya.
Bagi mereka, setiap tabuhan rebana dan lantunan sholawat bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk ibadah. Dari mushola sederhana di Desa Kesamben, semangat bersholawat terus tumbuh, mengalir dari generasi ke generasi sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad







