Blitar, insanimedia.id– Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Blitar menggelar agenda tahunan Halal Bihalal yang bertempat di Wisata Kampung Cokelat, Kademangan, pada Sabtu (11/4/2026). Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menjadi ruang dialektika penting dengan kehadiran Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999, Anas Urbaningrum yang memberikan stadium general mengenai peta politik dan ideologi global.
Ketua Panitia, Juni Arifin, dalam laporannya menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan upaya mempererat jejaring alumni lintas generasi di Blitar. Senada dengan hal tersebut, Presidium MD KAHMI Kabupaten Blitar, Zainal Mustofa, dan Presidium MW KAHMI Jawa Timur, Agus Machfud Fauzi, menekankan pentingnya peran strategis KAHMI dalam menjaga stabilitas sosial dan kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah.
Turut hadir Susi Narulita, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, serta Ismail Namsa, anggota DPRD Komisi I serta alumni HMI lainnya di berbagai bidang. Dukungan pemerintah daerah melalui Staf Ahli Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik Pemkab Blitar. Ia menyatakan bahwa sinergi antara kaum intelektual dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengawal kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.
Ketua Umum HMI Cabang Blitar, Qithfirul Aziz, dalam prakatanya menegaskan bahwa kolaborasi antara kader aktif dan alumni adalah kunci keberlanjutan organisasi.
”Momentum Halal Bihalal di Kampung Cokelat ini harus kita maknai sebagai titik tolak penguatan integritas kader. Sinergi dengan para alumni bukan sekadar romantisme organisasi, melainkan transfer nilai untuk membentuk ketahanan kader dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Aziz.
Puncak acara ditandai dengan orasi ilmiah oleh Anas Urbaningrum. Dalam paparannya, Anas mengajak audiens untuk membedah sejarah keruntuhan dan ketahanan sebuah ideologi besar di dunia sebagai pelajaran bagi Indonesia. Ia menyoroti bagaimana fleksibilitas dan adaptasi menjadi faktor penentu eksistensi sebuah sistem.
”Komunis ala Soviet ini runtuh, komunis ala Cina bertahan karena ada revisi-revisi di dalam implementasi ideologinya,” ungkap Anas di hadapan ratusan peserta.
Lebih lanjut, ia memberikan komparasi mengenai ketahanan negara di tengah tekanan internasional yang masif. Anas menekankan bahwa kekuatan sebuah entitas tidak hanya diukur dari luas wilayah, tetapi dari kemampuan bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun.
”Nah, saya ingin pelajaran kecil ini kita lihat. Yang jauh kita lihat dari Iran sana, yang dekat kita lihat dari bumi sekarang yang kita berpijak, Kampung Cokelat ini,” tuturnya menyambungkan narasi global dengan konteks lokal.
Anas mengakhiri orasinya dengan merefleksikan daya tahan Iran sebagai studi kasus ketangguhan nasional yang relevan untuk dipelajari oleh para alumni dan kader HMI.
”Apa yang membuat Iran yang tidak besar itu, yang bagian relatif kecil saja di Timur Tengah, tetapi mendapatkan embargo, tekanan, penyisihan, peminggiran, gangguan, puluhan tahun bertahan. Bisa bertahan,” pungkasnya.
Acara ini ditutup dengan ramah tamah dan diskusi terbatas, memperkuat komitmen MD KAHMI Blitar untuk terus menjadi motor penggerak intelektual di Jawa Timur.







