Blitar, insanimedia.id – Kenaikan harga bahan kemasan seperti plastik dan botol dalam beberapa hari terakhir mulai memengaruhi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Blitar. Para pelaku usaha menghadapi lonjakan harga sekaligus keterbatasan stok barang di pasaran.
Meriawati sebagai penjual jamu tradisional mengungkapkan bahwa harga botol mengalami kenaikan cukup besar. Ia menyebut botol kecil berkapasitas 510 mililiter naik dari Rp80 ribu menjadi Rp100 ribu per bal yang berisi 91 botol. Sementara itu, botol ukuran 1,5 liter meningkat dari Rp100 ribu menjadi Rp116 ribu per bal dengan isi 72 botol. Ia juga mengeluhkan ketersediaan barang yang semakin sulit didapat. “Sekarang harga naik, tapi barangnya sering kosong,” ujarnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada produk plastik. Harga kresek naik dari Rp66 ribu menjadi Rp106 ribu per paket isi 10 lembar, sedangkan plastik ukuran setengah kilogram meningkat dari Rp10 ribu menjadi Rp13.800. Dalam kondisi tersebut, Meriawati memutuskan menaikkan harga jual produknya agar tetap menjaga kualitas, bukan mengurangi isi atau takaran.
Pelaku usaha katering juga merasakan dampak serupa. Susi menyatakan bahwa harga kantong plastik ukuran satu kilogram naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000, sementara wadah thinwall berkapasitas 1.500 mililiter meningkat dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per buah. Ia menilai kenaikan ini cukup memberatkan karena kebutuhan kemasan dalam usahanya cukup tinggi. “Kenaikannya terasa karena kebutuhan kemasan cukup banyak,” ujarnya.
Di sisi lain, Rina sebagai karyawan toko plastik menyampaikan bahwa stok barang mulai berkurang, terutama untuk produk plastik gelas, mika, dan styrofoam. Ia menegaskan bahwa beberapa jenis kemasan kini semakin sulit ditemukan di pasaran. “Barangnya mulai susah, terutama plastik gelas, mika, dan styrofoam,” ungkapnya.
Kondisi kenaikan harga dan keterbatasan pasokan ini semakin menekan pelaku usaha yang sangat bergantung pada bahan kemasan dalam kegiatan produksi sehari-hari. Gangguan pasokan bahan baku impor dari Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga plastik. Indonesia sendiri masih bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku industri plastik, sehingga ketika pasokan terganggu, harga di dalam negeri ikut terdampak.







