Blitar, insanimedia.id — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Peta Blitar menggelar kajian kritis bertajuk “Kemanusiaan dalam Ujian: Ketika Kekerasan Seksual Diseret ke Isu Gender” di Blitar, Rabu (4/2/2026). Diskusi ini menyoroti fenomena kekerasan di lingkungan akademik, berkaca pada kasus tragis pembacokan mahasiswa yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau baru-baru ini.
Ketua HMI Komisariat Peta Blitar, Mohammad Syifa, menegaskan bahwa agenda ini merupakan bentuk respons terhadap kegelisahan intelektual atas meningkatnya tendensi kekerasan yang dipicu oleh sentimen gender yang bias. Menurutnya, diskursus mengenai kekerasan seksual sering kali terjebak dalam dikotomi gender yang justru mengaburkan substansi perlindungan terhadap korban.
“Kajian ini bertujuan untuk mengembalikan perspektif bahwa kekerasan seksual bukan hanya soal pertentangan antara laki-laki dan perempuan, melainkan murni pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang harus dikutuk secara universal,” ujar Mohammad Syifa dalam sambutannya.
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Ponorogo, Amran Abdul F, memaparkan bahwa penyederhanaan masalah kekerasan seksual ke dalam isu gender sering kali kontraproduktif dalam penyelesaian kasus. Ia menyoroti bagaimana pola pikir tersebut dapat memperburuk stigma dan posisi tawar korban di mata hukum maupun masyarakat.
“Kekerasan seksual bukan sekadar masalah gender, tetapi tentang degradasi kemanusiaan. Ketika kita menyeret isu ini terlalu jauh ke dalam polarisasi gender, kita justru sering kali melupakan esensi keadilan bagi korban yang seharusnya menjadi prioritas utama,” tegas Amran di hadapan puluhan peserta yang hadir.
Amran juga menambahkan bahwa kasus pembacokan di UIN Suska Riau menjadi bukti nyata bagaimana kekerasan dapat tereskalasi di lingkungan pendidikan jika akar masalah—termasuk cara pandang terhadap relasi kuasa—tidak dibenahi secara sistematis. Berdasarkan data nasional, laporan kekerasan seksual di kampus masih fluktuatif, namun penanganannya sering kali terkendala oleh benturan narasi ideologis.
Diskusi yang dihadiri oleh berbagai kalangan mahasiswa, aktivis, dan masyarakat umum ini juga menekankan pentingnya peran kolektif dalam menciptakan ruang aman. Di akhir sesi, Amran kembali mengingatkan bahwa edukasi harus menyasar pada penguatan empati. “Kemanusiaan harus berada di atas segala sentimen kelompok agar pencegahan kekerasan bisa berjalan efektif,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, HMI Komisariat Peta Blitar berharap dapat mendorong lahirnya kebijakan kampus yang lebih inklusif dan responsif terhadap isu kemanusiaan demi memutus mata rantai kekerasan seksual.







