Blitar, insanimedia.id – Mengelola klub sepak bola di kasta bawah ternyata bukan soal memutar modal demi laba, melainkan murni pengabdian yang menguras energi dan materi.
Hal ini ditegaskan oleh Fatatoh Hironi Ulya, Manajer Blitar Putra sekaligus Ketua Harian KONI Kabupaten Blitar, dalam sebuah diskusi mendalam.
Dalam siniar di kanal YouTube Bakul Kumpo yang diunggah pada Jumat, (6/22026), Fatatoh membedah dapur pengelolaan klub di Liga 4.
Bagi pria yang juga duduk di Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar ini, keberadaan klub lokal adalah instrumen pembinaan karakter pemuda, bukan sekadar entitas bisnis.
”Kalau kita di Liga 4, karena memang ini adalah pembinaan, kita tidak mengedepankan untuk mencari cuan. Tapi bagaimana kita mengabdikan diri mengembangkan adik-adik yang punya bakat,” ujar Fatatoh.
Ia menekankan bahwa visi utamanya adalah memberikan jam terbang bagi talenta lokal hasil godokan 28 Sekolah Sepak Bola (SSB) di Blitar agar bisa menembus level profesional. Ambisi tersebut terbentur realitas infrastruktur yang memprihatinkan, terutama di wilayah Blitar Selatan.
Fatatoh memotret kondisi lapangan desa yang jauh dari standar layak: berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Padahal, menurutnya, tanpa fasilitas yang memadai, sulit bagi pemain lokal untuk bersaing dengan standar permainan modern yang kini mulai berkiblat pada gaya Eropa.
Fatatoh juga menyoroti pentingnya sertifikasi pelatih. Saat ini, Kabupaten Blitar masih minim tenaga pelatih berlisensi C dan B yang menjadi syarat standar kompetisi resmi.
Untuk menutup celah tersebut, ia merencanakan kolaborasi antara PSSI, KONI, dan Dinas Pendidikan guna menghidupkan kembali kompetisi berjenjang pada tahun 2026.
”Mulai dari pembinaan usia dini memang harus kita tekankan. Mindset-nya harus diubah, jangan hanya mengejar trofi di usia 8-12 tahun, tapi bagaimana fase dasarnya benar dulu,” tambahnya.
Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan sepak bola Blitar agar kembali menyumbang pemain di kasta tertinggi Liga Indonesia.







