Insanimedia.id – Di tengah perang antara Iran versus Amerika-Israel, muncul banyak informasi terkait dengan peristiwa tersebut. Informasi tersebut muncul dari akun akun resmi dan kemudian dishare oleh individu melalui media social tanpa menyebutkan sumbernya.
Ada juga informasi yang dishare langsung melalui media social dengan menyebutkan sumbernya. Ada juga informasi yang dibagikan melalui media social setelah melalui proses editing dan penyertaan opini.
Informasi-informasi yang beredar begitu banyak. Apalagi media social memungkinkan individu memeliki akun media dan menyebarkan informasi secara bebas. Jika penerima informasi tidak jeli dalam membaca dan memahami isinya, maka informasi palsu akan tersebar luas.
Alvin Eugene Toffler, seorang jurnalis kelahiran New York dan dikenal sebagai futuris karena tulisannya pernah menulis buku berjudul Future Shock (benturan masa depan) pada tahun 1970. Ia memprediksi bahwa manusia akan mengalami benturan masa depan. Dan pada tahun 1980 ia menulis buku berjudul The Third Wave (gelombang ketiga).
Gelombang pertama adalah masa peradaban agraris. Umat manusia mengandalkan hidupnya dari pertanian. Pada masa ini kehidupan manusia tak lepas dari kegiatan bertani. Kerangka berpikir manusia tak lepas dari dinamika alam tanpa rekayasa.
Gelombang kedua adalah masa industri. Pada masa ini kehidupan manusia dijalankan dengan perangkat mesin, teruta untuk produksi baran-barang yang menjadi kebutuhan hajat hidup orang banyak.
Pertanian masih ada, tetapi dijalankan dengan perangkat mesin sehingga mampu mengerjakan lahan luas dalam waktu singkat dan sedikit tenaga kerja. Pada masa ini, komunikasi dapat dilakukan secara massif, menjangaku banyak audien dengan bantuan media seperti televisi, radio, koran, majalah, dan media-media lainnya secara searah.
Penyampai pesan adalah para praktisi media saja. Sementara masyarakat hanya menjadi penerima pesan. Media komunikasi menjadi alat propaganda, sebagaimana saat perang dunia kedua.
Gelombang kegita adalah informasi. Masa ini adalah kelanjutan dari era industrialisasi. Gelombang ketiga diawali dengan kemampuan manusia menciptakan perangkat teknologi komunikasi.
Data, dokumen, dan berbagai informasi dapat disimpan dalam satu perangkat computer. Selanjutnya melalui perangkat tersebut manusia mampu menyusun jaringan komunikasi dan pertukaran informasi secara digital.
Manusia mampu bertukar data, dokumen, informasi, baik berupa teks, suara, gambar, dan bahkan perpaduan antara ketiganya dengan mudah dan cepat. Bahkan berbagai pekerjaan rumit dapat dilakukan dengan perangkat dan jaringan dengan mudah.
Pada gelombang ini, interaksi dan komunikasi yang dilakukan oleh umat manusia melalui media tidak lagi berjalan satu arah. Televisi, radio, koran, majalah, dan media-media lainnya dijalankan secara interaktif, konvergen, dan personal.
Seseorang dapat berkomunikasi dua arah secara langsung dari jarak jauh. Pesan dapat disampaikan dan diterima melalui berbagai saluran komunikasi secara bersama.
Pengirim pesan tidak hanya dilakukan oleh awak media seperti jurnalis. Seseorang bisa memproduksi dan menyebarkan informasi, meski bukan seorang jurnalis. Lihat bagaimana kita gunakan media social kita.
Kita menyerap banyak informasi dan kita juga menyebarkan informasi melalui berbagai saluran. Akibatnya, intensitas produksi informasi meningkat, sehingga jumlah informasi yang tersebar kian meningkat pesat.
Pada konteks inilah apa yang diramalkan oleh Tofler terasa relevan. Banyak informasi yang beredar melalui media informasi saat ini menunjukkan bahwa kita saat ini berada di fase yang disebut dengan gelombang ketiga. Yakni gelombang informasi.
Banyak informasi bersliweran di depan mata kita. Saking banyaknya, kita menjadi bingung untuk memfilter dan memilih informasi yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam mengambil sikap dan keputusan.
Memang, sikap dan pengambilan keputusan membutuhkan informasi yang lengkap. Tanpa informasi yang lengkap keputusan yang diambil akan dapat cacat. Tetapi dengan banyak informasi yang diterima akan menjadikan seseorang kesulitan mengambil keputusan.
Inilah yang oleh Tofler disebut dengan “Millions of ordinary, psychologically normal people will face an abrupt collision with the future.” Jutaan manusia yang secara psikologis normal akan menghadapi benturan di masa depan. Manusia mengalami benturan karena menghadapi informasi yang terlalu banyak sehingga menimbulkan benturan psikologis dalam mengambil keputusan.
Informasi di Tengah Perang Senjata
Di gelombang ketiga ini, ketika informasi menjadi elemen penting dalam pengambilan keputusan, media informasi tidak hanya sekedar sebagai saluran informasi. Media menjadi instrument pembentuk peradaban.
Ada kutipan terkenal dari buku The Third Wave yang ditulis oleh Tofler menyatakan “The new media are not just channel of Information. They are shaping a new civilization.” (Media baru bukan sekedar media atau saluran informasi. Ia adalah membentuk peradaban baru). Informasi yang beredar membentuk budaya baru yang berbeda dengan peradaban sebelumnya.
Kembali pada isu terkini, yakni perang antara Iran versus Amerika-Israel. Perang yang terjadi pada saat ini bukan sekedar perang dengan adu senjata.
Siapa yang memliki senjata lebih ampuh alias canggih, dialah yang akan menang. Bukan. Perang di era informasi adalah perang informasi itu sendiri.
Media menjadi perangkat perang asimetris antar pihak yang terlibat. Informasi-informasi yang beredar menjadi senjata dalam peperangan di era informasi. Karena perang perang di gelombang ketiga ini tidak saja perang senjata tetapi juga perang opini. Media menjadi alat pembentuk opini masyarakat dunia.
Informasi yang beredar terkait perang Iran Versus Amerika-Israel akan melahirkan peradaban baru. Pertama, Serangan Amerika-Israel di tengah negosiasi politik yang masih berjalan menjadi peristiwa yang menggeser opini dunia terhadap Iran.
Narasi bahwa Iran sebagai negara yang berbahaya karena proyek uraniumnya menjadi mentah karena serangan Amerika itu sendiri. Iran mulai dipersepsikan sebagai negara yang terdhalimi.
Sorot media terkait serangan Amerika-Israel ke Iran ini akan mengubah persepsi dunia, terutama negara yang memiliki poros dengan Iran. Amerika akan dipandang sebagai negara yang urakan, sehingga tidak lagi pantas didukung. Banyaknya negara yang menolak bergabung di Board of Peace (BOP) adalah bukti dari mulai bergesernya opini dunia tentang Amerika.
Kedua, perlawanan Iran atas serangan Amerika-Israel menempatkannya sebagai satu-satunya negara muslim yang berani menghadapi dominasi Amerika. Selama ini Iran dipersepsikan sebagai negara Islam beraliran syi’ah yang kejam dan genosida yang bertentangan dengan Islam.
Narasi yang terbangun bahwa Syi’ah banyak membunuh muslim Sunni. Sehingga negara-negara muslim yang mayoritas Sunni tidak berpihak kepadanya. Posisi Iran yang sendirian menghadapi serangan Amerika-Israel mengundang simpati masyarakat muslim dunia.
Setidaknya, muslim sunni menjadi terusik untuk mendefinisikan ulang pandangan mereka terhadap Iran. Wacana Sunni-Syi’i yang kontradiksi, kini mulai ditinjau ulang. Hal ini terlihat pada unggahan di media social, yang mempertanyakan ulang pandangan sunni terhadap Syi’i.
Apalagi, banyak fakta sejaraah bahwa asumsi-asumsi genosida Iran yang Syi’i terhadap Sunni di beberapa tempat ternyata tidak terbukti. Redefinisi tentang Iran Syi’i kian menguat di kalangan Sunni. Dukungan terhadap Iran kian membesar.
Perang antar Peradaban
Wacana perang antar peradaban yang disuguhkan oleh Samuel Hutington telah lama menjadi pemantik munculnya gagasan peradaban baru. Bahwa dominasi negara-negara besar yang memiliki hak veto di PBB, terutama Amerika, tak lain adalah ikhtiar untuk mengontrol dunia dengan penguasaan sumber-sumber daya ekonomi yang ada. Gagasan menggantikan pemimpin Iran, Ali Khamenei, dengan Reza Pahlevi adalah contoh telanjang rekayasa politik untuk dapat menguasai Iran.
Mengutip tesis Hutington, baha perang antar peradaban sebenarnya dipicu oleh beberapa hal. Pertama adanya perbedaan identitas, baik politik maupun budaya antara bangsa. Kedua, penonjolan identitas sehingga melahirkan asumsi bahwa identitas kelompok atau negaranya yang paling baik.
Lalu memaksakan identitas kepada kelompok lain. Ketiga, perbedaan sikap dan ketidakadilan yang disebabkan oleh superioritas, kekhawatiran, mis-komunikasi, serta rendahnya pengetahuan. Keempat, keinginan untuk mengontrol dan mendominasi kelpmpok, bangsa, dan negara lain. Kelima, nafsu keserakahan.
Lalu, apakah serangan Amerika-Israel didorong oleh factor-faktor tersebut? Dan ke mana umat Islam harus melabuhkan dukungan?
Sebagai muslim yang memiliki pegangan naskah otentik, al-Qur’an, harus mengacu pada ketentuan yang ada di dalamnya. Ummat Muslim telah didaulat untuk amar ma’ruf dan nahi munkar dan dilarang menjadi pihak yang memecah belah, termasuk memicu konflik (QS. Ali Imran (3): 104-105).
Dengan informasi-informasi yang terkait serangan Amerika-Israel terhadap Iran, maka jelas sudah ke mana umat muslim harus berpihak. Hanya dengan keberpihakan yang tepat ummat muslim akan menjadi ummat terbaik (QS. Ali Imran (3): 110).





