Jangan Jadi Penonton, Iran Diserang, Ini Soal Islam, Bukan Aliran

Oleh : Mohamad Isyamudin Konsultan Hukum

Insani Media

insanimedia.id – Peristiwa yang kini sedang mengguncang Timur Tengah bukan sekadar “konflik geopolitik biasa” yang bisa ditonton dari jauh dengan santai. Pada 28 Februari 2026, serangan militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran menandai eskalasi langsung perang berskala internasional yang berdampak luas bagi jutaan orang di kawasan dan dunia.

Kita perlu jujur: banyak dari kita menilai konflik ini hanya dengan istilah politik atau sekadar mencari siapa “pemenangnya”. Padahal, saat bom jatuh, yang mati bukan sekadar angka statistik mereka adalah manusia, umat, dan saudara se-agama, terutama ketika konflik itu menyentuh negara yang disebut “Islam” dalam konstitusinya dan dipimpin oleh rezim yang mayoritas penduduknya Muslim.

Apa yang Sedang Terjadi di Iran dan Sekitarnya?

Serangan militer yang dilakukan oleh Israel bersama Amerika bertujuan untuk melemahkan kemampuan nuklir, sistem misil, dan jaringan militer Iran. Teheran sendiri dibalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Konflik ini meluas dengan cepat. Berdasarkan laporan terbaru, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas, dan pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional.  Dampaknya tidak hanya dirasakan di Iran dan Israel: negara-negara di wilayah Teluk seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, bahkan Gaza dan Lebanon melalui Hezbollah turut terseret dalam dinamika kekerasan.

Situasinya sedemikian parah hingga PBB mengecam penggunaan kekuatan yang melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara kekhawatiran akan eskalasi perang besar bahkan kemungkinan bahwa konflik ini bisa memicu krisis global terus mengemuka.

Umat Islam: Tidak Cukup Hanya Menonton

Sejak awal terbentuknya komunitas Muslim, sejarah kita penuh ujian yang mengharuskan solidaritas dan kepekaan terhadap penderitaan sesama umat yang menghadapi penindasan, pengusiran, atau pembantaian. Serangan terhadap wilayah yang mayoritas Muslim bukan sekadar “isu politik negeri lain”: itu adalah luka yang bisa dirasakan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia.

Baca Juga :  Diskresi, Bukan Delik: Meluruskan Logika Hukum dalam Kasus Kuota Haji Tambahan 2024

Pemimpin Iran sendiri, Presiden Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei dan agresi terhadap negaranya dipersepsikan sebagai “perang terhadap Muslim, khususnya Syiah” di seluruh dunia. 

Apa yang dikatakan ini bisa menjadi panggilan bangun untuk kita: konflik seperti ini bukan hanya soal strategi militer, bukan hanya tentang politik negara besar. Ini adalah soal keberpihakan terhadap kemanusiaan dan terhadap umat yang sedang menderita.

Kenapa Ini “Islam, Bukan Aliran”?

Dalam konteks Indonesia atau dunia Islam pada umumnya, seringkali kita terjebak dalam pertanyaan aliran: Syiah atau Sunni? Mana yang benar? Mana yang menyimpang? Ini telah menjadi diskusi panjang di ruang-ruang akademik, sosial, dan teologis. Tapi ketika bom menghantam sekolah, rumah sakit, dan permukiman, pertanyaan semacam itu menjadi sia-sia.

Yang dibutuhkan saat ini bukan debat sepanjang malam di media sosial tentang siapa yang lebih benar tetapi empati yang nyata kepada mereka yang terluka, kehilangan keluarga, rumah, atau bahkan kehidupan mereka.

Kita harus sadari: banyak warga sipil yang menjadi korban konflik ini termasuk anak sekolah yang berada jauh dari arena kekuasaan dan keputusan elite.  Mereka tidak berjuang untuk kursi kekuasaan atau permainan geopolitik, tapi hidup mereka hancur oleh keputusan negara lain.

Solidaritas Umat Tidak Membatasi Diri pada Aliran

Islam, pada dasarnya, adalah agama persaudaraan: ukhuwah Islamiyah. Mengurusi nasib umat bukan hanya tanggung jawab satu kelompok tertentu. Ketika saudara sedang tertindas, umat dituntut untuk peduli dan mengambil sikap, bukan hanya menjadi penonton dari kejauhan.

Bahwa mayoritas penduduk Iran adalah Muslim (Syiah) hanyalah fakta demografis. Itu tidak sepantasnya menjadi alasan umat Islam lain untuk menolak bersimpati atau menjauh. Ketika saudara kita berduka, agama bukan aliran seharusnya menjadi dasar solidaritas kita.

Baca Juga :  Andai Allah Mengangkat Air dari Bumi Ini (Untuk Refleksi, Edukasi, Inspirasi, Motivasi)

Apakah Kita Hanya Ingin Menjadi Penonton Bodoh?

Jika kita terus menunggu agar tragedi ini tidak menyangkut aliran kita sendiri atau terus berdalih bahwa “itu bukan urusan kita” maka kita telah menyerahkan tanggung jawab moral kepada geopolitik dan kekuatan global. Padahal, solidaritas kemanusiaan dan dukungan terhadap umat yang tertindas adalah esensi dari ajaran agama yang kita anut.

Belajar dari situasi ini berarti menyadari bahwa yang sedang kita saksikan bukan hanya perang antara negara, tetapi juga ujian untuk bangsa-bangsa Muslim agar tidak terpecah oleh sekat aliran di saat solidaritas umat sangat dibutuhkan.