Kapan Mulai Puasa Ramadhan?

Oleh : Ropingi el Ishaq, dosen komunikasi dan dakwah UIN Syekh Wasil Kediri

Insani Media
Tim Falakiyah Rukyatul Hilal Kabupaten Blitar

insanimedia.id – Tiap tahun menjelang Ramadan, menjelang Idul Fitri, dan menjelang Idul Adha umat Islam di Indonesia khususnya selalu disibukkan dengan penentuan tanggal. Tiap organisasi keagamaan menentukan sendiri. Dengan metode masing-masing. Bisa dipastikan, hasilnya berbeda.

Tahun ini juga sama. Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 1 Ramadhan tahun 2026 jatuh pada tanggal 18 februari 2025. Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyah yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Februari besuk. Pemerintah Republik Indonesia, sama dengan NU, menunggu hasil rukyah untuk ditetapkan pada sidang itsbath.

Perbedaan penentuan 1 Ramadan ataupun 1 Syawal bisa dimaknai sebagai sebuah rahmat.  Umat Islam bisa memilih mengikuti hasil ijtihad organisasi mana yang diyakininya.  Apakah mengikuti hasil ijtihad Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, atau mengikuti hasil ijtihad organisasi keagamaan Islam yang lain. Sekali lagi, umat Islam bebas untuk memilih mengikuti yang mana yang diyakini.

Argumen ini sering disampaikan oleh para tokoh agama dalam rangka untuk menenangkan umatnya agar tidak ribut atau berselisih dengan umat Islam lain yang berbeda pandangan dan keyakinan tentang penentuan tanggal. Tidak adanya perbedaan pendapat yang menimbulkan perdebatan menjadi satu ukuran kedewasaan di dalam kehidupan keagamaan.

Ropingi el Ishaq dosen komunikasi dan dakwah UIN Syekh Wasil Kediri
Ropingi el Ishaq, dosen komunikasi dan dakwah UIN Syekh Wasil Kediri

Namun demikian hal itu patut untuk direnungkan ulang. Sebab persoalannya bukan sekadar pada kedewasaan berpikir untuk menerima perbedaan di tengah-tengah umat.  Lebih dari itu perbedaan penentuan tanggal merepresentasikan kedewasaan berpikir para elit agama untuk membangun suatu kesepakatan bersama. Perbedaan tanggal tersebut sebenarnya lebih mencerminkan tingkat kedewasaan dan kedalaman pemikiran para tokoh agama, dalam membangun pilar peradaban Islam.

Meskipun perbedaan pandangan tentang penentuan Ramadhan dan Syawal didasarkan pada dalil yang sharih yakni terkait dengan melihat bulan untuk memulai ibadah puasa ramadan dan idul fitri,  tetapi ada beberapa pandangan lain yang perlu dipertimbangkan demi dakwah islamiyah yang lebih fundamental.

Baca Juga :  Warga NU di Loano Purworejo Jalan Kali 20 km, Penuhi Nazar Bangun MWC dari Iuran

Pertama, tentang matla’ alias tempat terbitnya bulan.  Penentuan tanggal seringkali didasarkan pada tempat terbitnya bulan yang dapat dilihat di satu tempat.  Jika di suatu tempat telah terlihat bulan (yang menunjukkan tanggal 1), maka di daerah tersebut telah memasuki bulan baru.

Argumen ini pada akhirnya menghasilkan perbedaan tanggal 1 Ramadan antara satu tempat dengan tempat lainnya, karena tidak semua tempat bisa menunjukkan terlihatnya hilal. Mulainya ramadhan di satu kawasan, bahkan satu negara sekalipun, dimungkinkan terjadi secara acak.

Tempat di sebelah barat bisa lebih dulu puasa ketimbang tempat yang ada di sebelah timur.  Ini pernah terjadi, Arab Saudi lebih dulu Shalat Idul Fitri dari pada Indonesia. Padahal, dalam keseharian waktu Indonesia lebih dulu. Rasanya menjadi tidak logis.

Kedua dalam perspektif global, melihat perjalanan matahari dari sebelah timur ke sebelah barat maka argumentasi utamanya adalah bahwa tempat yang di timur harus lebih dahulu ketimbang tempat yang ada di sebelah barat.  Tidak logis jika Arab Saudi memulai puasa hari ini, sementara Indonesia yang berada di sebelah timur justru memulai puasa esuk hari.

Tentunya ini adalah argumentasi yang logis alias masuk akal, jika dinalar dengan kerangka berpikir global. Tetapi jika dinalar dengan kerangka berpikir lokal, maka tidak jadi masalah. Toh matla’nya berbeda. Tentu hukumnya juga berbeda.

Ketiga, penentuan tanggal 1 Ramadan dan tanggal 1 syawal melalui penglihatan langsung,  mau nggak mau menuntut dilaksanakan rukyatul hilal di setiap tahun.  Dari perspektif ekonomi tentu ini membutuhkan biaya yang besar.

Karena harus melaksanakan kegiatan di berbagai titik di seluruh Indonesia.  Banyak titik rukyatul hilal harus disediakan. Banyak tim yang harus diterjunkan. Tahun ini, pelaksanaan rukyatul hilal akan difokuskan di IKN. Tentu biayanya akan jauh lebih besar.

Baca Juga :  Antara Ilmu, Tafsir, dan Mikrofon: Fenomena Syaiful Karim dan Tafsir yang Terlalu Jauh

Padahal ini bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Tidak perlu mengeluarkan anggaran besar. Sehingga negara bisa menghemat anggaran dan bisa dialihkan untuk membiayai program pemerintah lain yang lebih urgen.

Keempat, dalam rangka untuk membangun citra dan syiar Islam maka perbedaan matla’ yang menghasilkan perbedaan waktu puasa secara acak ini menimbulkan syiar yang kurang positif.  Perbedaan ini mencerminkan tidak bersatunya umat Islam antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.  Permulaan Ramadan saat dan shalat Idul Fitri yang serempak di seluruh pelosok dunia akan menciptakan image positif bagi umat Islam.  Sebagaimana Natal dilaksanakan serempak oleh seluruh dunia.

Meskipun di kalangan umat Nasrani terdiri banyak faksi dan aliran di dalamnya, tetapi mereka mampu menyepakati hari besar Natal dalam satu tanggal yakni 25 Desember. Tidak ada perdebatan di antara mereka. Kekompakan ini merepresentasikan persatuan di antara mereka.  

Kelima,  bukankah Indonesia punya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang bisa memantau pergerakan bulan dan matahari di setiap hari.  Bukankah badan ini telah terbiasa menentukan kapan terjadi gerhana bulan, gerhana matahari, serta peredaran bulan dan matahari.

Selama ini hasil kerja badan ini menunjukkan hasil yang tepat.  Tentu badan ini juga mampu untuk menentukan kapan dimulainya tanggal 1 Ramadan maupun tanggal 1 Syawal.  Untuk apa Kementerian Agama melakukan penghitungan dan pengamatan matahari dan bukan sendiri demi untuk menentukan tanggal 1 Ramadhan dan Syawal.  

Bukankah akan lebih baik jika itu diserahkan kepada BMKG yang memang bertugas untuk memantau dinamika astronomi. Bukankah antar lembaga pemerintah  bisa saling sinergi dan berbagi tugas untuk tentukan tanggal 1 Ramadhan dan Syawal? Sehingga Kementerian Agama tidak perlu kerjakan sendiri.

Baca Juga :  Tambang Bukan Jalan Tuhan: HMI Menolak Komodifikasi Alam atas Nama Pembangunan

Agama diturunkan untuk mengatur hidup manusia, bukan sekedar untuk membuat umatnya repot melakukan aktifitas tanpa makna. Puasa adalah ibadah, dan penentuan kapan mulai puasa dan kapan harus mengakhiri puasa alias idul fitri hanyalah sarana ibadah. Penentuan itu bisa dilakukan dengan bantuan sains dan teknologi, sehingga umat beragama tidak kesulitan dalam menjalankannya.

Hal ini perlu untuk direnungkan, agar aktifitas ibadah kita tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna dan memberatkan umat.

Selamat berijtihat.