Kepemimpinan Islam Mendunia

Oleh : Ropingi el Ishaq, Akademisi UIN Syekh Wasil Kediri

Insani Media

insanimedia.id – Duar duar duar. Israel bersama Amerika Serikat menyerang Iran pada Sabtu tanggal 28 Februari 2026. Sebagaimana dilansir beberapa media, ada lima kota dihujani peluru oleh Israel dan Amerika Serikat. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikabarkan tewas akibat serangan mendadak tersebut. Meski kabar ini belum betul-betul terkonfirmasi.

Rencana penyerangan terhadap Iran sudah dirancang beberapa waktu sebelumnya. Rencana itu terekspose oleh media dan ramai dibahas di media social. Kapal induk yang digunakan oleh Amerika untuk menyergap Presiden Venezuela dikirim ke wilayah terdekat Iran untuk menunaikan misi penyerangan kepada Iran.

Serangan ini mengingatkan beberapa peristiwa penyerangan yang sama di beberapa dekade sebelumnya. Tahun 2003 Irak yang dipimpin oleh Saddam Husein digempur habis oleh Amerika Serikat dengan tuduhan memiliki senjata pemusnah massal. Hingga Saddam Husein ditangkap dan dijatuhi hukuman mati senjata pemusnah massal yang dituduhkanpun tidak terbukti.

Awal Januari 2026 Amerika menangkap Nicolas Maduro, Presiden Venezuela. Tanpa ada keramaian pemberitaan dan tanpa perlawanan dari pasukan Venezuela, Presiden Trump melakukan aksi sepihaknya tanpa menghiraukan kedaulatan suatu negara.

Sementara, Israel yang terus menerus menghujani peluru ke warga Gaza dan menewaskan banyak nyawa, tidak dibombardir oleh Amerika. Jelas Israel tidak mau berunding untuk kemerdekaan palestina. Jelas perundingan  demi perundingan dilanggar oleh Israel. Jelas Israel mengembangan persenjataan nuklir. Israel justru dilindungi.

Kali ini justru Amerika Bersama Israel secara bersama-sama membombardir Iran dengan alasan tidak mau menghentikan program uraniumnya. Iran dituduh tidak patuh pada undang-undang internasional. Narasi pengembangan uranium Iran membahayakan kedamaian dunia disebar-luaskan untuk menarik dukungan negara-negara lain.

Pertanyaannya seperti inikah penyelesaian politik luar negeri yang diambil oleh negara yang konon demokratis. Penyerangan terhadap negara lain apapun alasannya dalam konsep negara bangsa adalah sebuah tindakan melanggar kedaulatan. Penyerangan adalah tindakan melanggar prinsip-prinsip demokrasi.

Baca Juga :  Menguak Kinerja Industri Penyelenggara Haji dan Umrah Sebelum UU No. 14 Tahun 2025

Jika ini berlanjut tanpa ada negara yang mampu menghentikan arogansi Amerika maka dunia akan masuk pada kekacauan. Negara-negara yang kuat akan secara bebas menguasai negara lain yang lemah. Demokrasi hanya menjadi buah bibir saja. Arogansi menjadi sebuah jalan baru negara di dunia untuk memenuhi kepentingannya.

Posisi Politik Muslim

Di tengah arogansi Amerika dan Israel ini, pertanyaannya adalah ke mana pemimpin dan negara-negara muslim di dunia saat ini? Membaca keanggotaan Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Trump, ternyata sebagian besar anggota BoP adalah pemimpin negara yang merepresentasikan Islam. Yakni Indonesia, Vietnam, Kamboja, Kazakhstan, Usbekistan, Mongolia, Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Mesir, Yorgdania, Bahrain, Kuwait, Maroko, Turki, Hungaria, Belarus, Bulgarian, Albania, Armenia, Azerbaijan, Kosovo, Argentina, Paraguay, dan El Savador. Dari status keanggotaan BoP tersebut terbaca bahwa pemimpin-pemimpin negara muslim berada di bawah kendali Trump. Langkah politik Umat Islam di dunia terpecah. Di tengah konsep negara bangsa umat Islam bercerai-berai antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada persatuan tidak ada kolaborasi dan juga tidak ada komitmen bersama.

Pertanyaannya sampai kapan realitas kepemimpinan muslim di dunia ini akan berjalan dalam serpihan perpecahan? Jika umat Katolik bisa bersatu di bawah Panji negara agama, Roma, mestinya umat Islam bisa membangun realitas politik yang sama. Islam berada di bawah satu kepemimpinan atau setidaknya muslim di seluruh dunia bersatu, berkolaborasi, dan berkomitmen bersama untuk saling menjaga saling dan menguatkan antara satu dengan lainnya sehingga menjadi sebaik-baik umat. Tetapi nyatanya muslim di dunia seperti busa di lautan yang mudah dihempaskan ke pinggir dan ke tengah ke kiri dan ke kanan.

Baca Juga :  Gelombang Protes Trans7 dan Ujian Kedewasaan Umat: Tetap Waspada Terhadap Potensi Penumpang Gelap

Kekuatanw Alternatif Dunia

Krisis kepemimpinan muslim ini menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi muslim semuanya. Sudah saatnya antar negara muslim membangun sinergi dan kolaborasi untuk memperkuat tatan politik agar tidak menjadi permainan Amerika dan Israel. Perpecahan muslim tak lain adalah akibat dari propaganda Amerika dan sekutunya. Sebagaimana pernyataan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei bahwa perpecahan Sunni-Syiah di level dunia adalah korban dari politik propaganda yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Maka sudah saatnya umat Islam menyadari ancaman propaganda tersebut dan kembali kepada satu jalan utama yang bernama Islam. Singkirkan perbedaan kuatkan persatuan untuk menegakkan Islam di muka bumi.

Saat ini, salah satu atau bahkan satu-satunya, profil negara yang patut untuk dijadikan contoh bagi negara-negara muslim adalah Iran. Sejak revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan boneka Amerika yakni Reza Pahlevi, Iran mendedikasikan diri sebagai negara yang tidak mau tunduk pada kepentingan politik Amerika. Iran tak mau tunduk kepada negara lain.

Di kancah politik internasional Iran banyak mendapatkan sanksi. Tetapi kemampuan Iran untuk tetap menjaga konsistensi perjuangan untuk tidak tergantung kepada negara barat seperti Amerika menjadi satu poin yang patut untuk diapresiasi.

Mampukah negara-negara muslim menata diri, membangun tatanan baru, dan menjadi alternatif kepemimpinan dunia di luar pengaruh Amerika? Mampukah negara-negara muslim bersatu menunjukkan kemajuan peradaban baru di atas nilai-nilai Islam, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an (Surat Ali Imran 110) sebagai ummat terbaik? Mampukah Ummat Islam bersatu mewujudkan tatanan peradaban yang rahmatan lil ‘alamin? Syaratnya, tentu tidak berada di bawah bayang-bayang Amerika selama ini bergerak mengatas-namakan keselamatan dan perdamaian umat manusia seluruh dunia, tetapi pada kenyataannya untuk kepentingan politik negaranya sendiri.