Khazanah Ramadan 2026 Karakter Orang Bertakwa: ľadabbur Surah Adz-Dzariyat (QS. 51:17–19) Episode:Lailatul Qodar

Oleh: Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

insanimedia.id – Ada satu gambaran yang sangat menarik dalam Surah Adz-Dzariyat. Allah tidak menjelaskan orang bertakwa dengan teori panjang atau definisi yang rumit.

Al-Qur’an justru menggambarkannya denganpotretkehidupansehari-hari:tiga kebiasaanyangmencerminkankedalaman iman seseorang. Allah berfirman:

ﻛَﺎﻧُﻮاﻗَﻠِﻴﻼًﱢﻣﻦَاﻟﻠﱠﻴْﻞِﻣَﺎﻳَﻬْﺠَﻌُﻮنَ وَﺑِﺎﻷَْﺳْﺤَﺎرِﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُونَوَﻓِﻲأَﻣْﻮَاﻟِﻬِﻢْ ﺣَﱞﻖﻟﱢﻠﱠﺴﺎﺋِﻞِوَاﻟْﻤَﺤْﺮُومِ

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun, dan pada harta mereka ada hak bagi orang miskin.” (QS.Adz-Dzariyat:17–19)

Perhatikan baik-baik. Al-Qur’an tidak menyebut status sosial mereka. Tidak disebut ulama besar, tidak disebut tokoh terkenal, bahkan tidak disebut jabatan atau gelar apa pun.

Yang disebut justru kebiasaan hidup mereka; bagaimana mereka menghidupkan malam, bagaimana mereka merendahkan diri dihadapan Allah, dan bagaimana mereka memperlakukan sesama manusia.

Kebiasaan Pertama: Mereka tidak menghabiskan malam hanya untuk tidur.

Bukan berarti mereka tidak tidur sama sekali. Islam tidak mengajarkan manusia menyiksa dirinya. Tetapi sebagian malam mereka dihidupkan dengan ibadah, shalat, doa, dan perenungan.

Malam memang memiliki suasana yang berbeda. Sunyi, tenang, dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Pada saat itulah hati manusia sering menjadi lebih jernih di hadapan Tuhannya.

Ramadhan sebenarnya ingin menghidupkan suasana seperti ini. Tarawih, qiyamul lail, dan tadarus bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah latihan spiritual agar hati manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam kesibukan dunia.

Kebiasaan Kedua: Mereka beristighfar pada waktu sahur.

Ini menarik. Mengapa istighfar dilakukan pada waktu sahur, padahal mereka telah menghidupkan malam dengan ibadah?

Justru di situlah keindahannya. Orang yang paling dekat kepada Allah biasanya justru merasa dirinya paling banyak kekurangan.

Mereka tidak sibuk merasa diri paling saleh. Mereka sibuk memohon ampun. Kesadaran seperti ini melahirkan kerendahan hati.

Baca Juga :  Hapus Umrah Mandiri Demi Perlindungan Jamaah

Orang yang terbiasa memohon ampun kepada Allah biasanya tidak mudah merendahkan orang lain, karena ia sadar dirinya sendiri masih penuh kelemahan.

Kebiasaan Ketiga:Pada harta mereka adahak bagi orang miskin

Kebiasaan ketiga mungkin yang paling mengejutkan. Setelah berbicara tentang ibadah malam dan istighfar, Al-Qur’an langsung berbicara tentang harta.“Pada harta mereka ada hak bagi orang miskin.” Artinya jelas: takwa tidak berhenti di sajadah. Takwa juga terlihat didompet.

Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan keseimbangan yang sangat indah. Hubungan dengan Allah harus kuat, tetapi hubungan dengan manusia juga harus sehat.

Ibadah malam membuat hati dekat kepada ľuhan,sedekah membuat hati dekatkepada manusia. Keduanya tidak boleh dipisahkan.

Kadang kita melihat fenomena yang menarik dalam kehidupan umat. Ada orang yang rajin beribadah tetapi hatinya keras kepada sesama. Ada juga yang sangat peduli kepada manusia tetapi hubungannya dengan ľuhan terasa jauh.

Al-Qur’an tidak mengajarkan pilihan seperti itu. Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: dekat kepada Allah dan sekaligus menghadirkan kebaikan bagi manusia.

Ramadhan sebenarnya adalah sekolah untuk itu. Puasa melatih kesabaran, tarawih melatih kedekatan spiritual, sementara zakat dan sedekah melatih kepedulian sosial. Ketika semua ini bertemu dalam satu pribadi, lahirlah manusia yang disebut AlQur’an sebagai orang bertakwa; manusia yang hubungannya baik dengan Tuhan dan kehadirannya juga membawa manfaat bagi manusia.

Maka ayat-ayat ini sebenarnya mengajak kita bertanya kepada dirisendiri.

Apakah ibadah kita sudah membuat hati menjadi lebih lembut? Apakah kedekatan kita dengan Allah membuat kita lebih peduli kepada sesama?

Jika jawabannya ya, mungkin kita sedang berjalan menuju jalan orang-orang bertakwa.

Jika belum, Ramadhan masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri; pelan-pelan, sedikit demi sedikit, seperti malam yang perlahan berubah menjadi fajar.

Baca Juga :  Masukan Untuk Revisi UU No. 34 Tahun 2014 (Seri-1) BPKH: Mandiri atau di Bawah Pemerintah?

Tiga Pesan dari QS. Adz-Dzariyat 17-19: Ramadhan, terutama di 10 malam terakhir, mengajarkan tiga hal penting: hidupkan malam dengan ibadah, rendahkan hati melalui istighfar, dan tumbuhkan kepedulian sosial.

Orang bertakwa dekat dengan Allah pada malam hari, rendah hati di hadapan-Nya, dan peduli kepada sesama. Inilah keseimbangan spiritual dan kemanusiaan yang diajarkan Al-Qur’an.