Merajut Ukhuwah di Aceh Tamiang, Dari Layanan Medis hingga Literasi Larut Malam

Penulis : Sulkhan Z.

Insani Media

Aceh Tamiang, insanimedia.id — Jarak sekitar 3.000 kilometer antara Blitar di Jawa Timur dan Aceh Tamiang di ujung utara Sumatera tidak menjadi penghalang bagi misi kemanusiaan.

Pada hari ketiga program Khidmah Ramadan, Jumat (20/2/2026), relawan NU Peduli Kemanusiaan Kabupaten Blitar mengonsolidasikan berbagai layanan sosial yang menyentuh aspek kesehatan hingga penguatan intelektual santri.

​Kegiatan dimulai sejak pagi hari di Dayah Al Musthofa melalui layanan pengobatan gratis. Tim medis yang dipimpin oleh Isa Anshori bersama Sulkhan Zuhdi dan Anisatu Nadhiroh memberikan pemeriksaan kesehatan kepada anak-anak di lingkungan dayah.

Langkah preventif ini diambil untuk memastikan kondisi fisik para santri tetap prima dalam menjalankan ibadah di bulan suci.

​Memasuki sore hari, suasana di Dayah Mustafa Mananggini berubah riuh oleh tawa anak-anak. Sebanyak 15 peserta mengikuti Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bertajuk “Menjadi Muslim yang Baik”.

Melalui metode dongeng dan permainan edukatif, para relawan berupaya menanamkan karakter positif dengan pendekatan yang humanis.

​”Kami mengemas edukasi karakter ini melalui metode yang menyenangkan. Lewat dongeng dan bermain, kami berharap nilai-nilai keislaman dapat diserap anak-anak dengan kegembiraan, tanpa mereka merasa sedang digurui,” ujar Ami Hapsari, pendongeng sekaligus aktivis Fatayat NU Blitar, Jumat sore.

Literasi Lintas waktu

​Semangat pengabdian para relawan tak surut meski hari telah berganti malam. Di Dayah Fajrussalam Mananggini, kegiatan berlanjut dengan sesi Literasi Santri yang dimulai pukul 22.00 hingga 00.30 WIB.

Di bawah temaram lampu selasar dayah, 25 santri antusias membedah metode praktis membaca kitab kuning dan mengenal lebih dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

​Fajar Prananda, relawan NU Peduli Kabupaten Blitar, mengungkapkan kekagumannya atas daya tahan dan dahaga ilmu para santri setempat.

Baca Juga :  Ada Gugatan dari Warga NU, Begini Tanggapan Ketua PCNU Kabupaten Blitar

Meskipun diskusi berlangsung hingga dini hari, interaksi antara mentor dan santri tetap terjaga melalui sesi ice breaking dan diskusi dua arah yang dinamis.

​”Antusiasme para santri di sini sangat luar biasa. Meski kegiatan berlangsung hingga larut malam, semangat mereka untuk mendalami metode baca kitab tidak luntur. Kami berharap ini menjadi jembatan literasi yang mempererat persaudaraan santri antar-pulau,” ungkap Fajar.

​Rangkaian kegiatan di hari ketiga ini menegaskan bahwa misi Khidmah Ramadan bukan sekadar penyaluran bantuan fisik, melainkan upaya membangun jembatan kultural dan spiritual.

Kehadiran relawan NU Peduli Blitar di Aceh Tamiang menjadi bukti nyata bahwa semangat kesukarelawanan mampu melampaui batas geografis demi kemanusiaan.