insanimedia.id – Tanpa kita sadari setiap pagi, ketika membuka jendela, udara yang kita hirup adalah racun yang pelan-pelan membunuh keluarga kita. Di Indonesia, polusi udara lebih banyak membunuh daripada kecelakaan lalu lintas.
Data pada Mei 2025 menunjukan kota dengan polusi udara tertinggi Adalah Tangerang (AQI+97), Bekasi (96), Bandung (94), Teluknaga(93), Ciputat (85), Surabaya (82), Tangerang Selatan (81), dan DKI Jakarta menduduki urutan sembilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memlaluipedoman Global Air Quality (AQG) telah mengungkapkan terkait dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan manusia, pada tingkat konsentrasi yang rendah. Pada tahun 2021, WHO memberikan revisi dan menurunkan hamper batas AQG sebagai peringatan bahwa sudah melampaui standar kualitas udara yang baru dapat meningkatkan risiko kesehatan yang signifikan(Lestari et al., 2024).
Bahwasannya WHO memperikrakan setiap tahunnya sekitar 7 tahun juta orang meninggal lebih awal akibatterpapar polusi udara. Dampak pada anak mencakup gangguan pertumbuhan dan fungsi paru-paru, gangguan pernapasan, serta peningkatan kasus asma berat.
Serta dampak pada orang dewasadapat menjadi factor utama kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke.
Namun mengapa kita tidak merasa ini penting atau kita biasa saja? karena komunikasi kepada publik yang gagal membuat hal sepenting ini seperti biasa saja atau bukan ancaman.
Lantas jika udara Adalah kebutuhan utama manusia, mengapa isu ini tidak terasa mendesak. Krisis polusi udara bukan hanya masalah lingkungan namun juga krisis komunikasi publik yang dapat membuat komunikasi terasa jauh.
Polusi udara merupakan ancaman nyata bagi kesehatan penduduk, namun pemerintah, media, dan masyarakat gagal membangun persepsi bahwa keadaan ini sudah sangat mendesak. Pesan yang disampaikan terlalu teknis, dan tidak personal, dan tidak terhubung dengan kegiatan sehari-hari, membuat masyarakat terasa jauh dan menciptakan jarak antara fakta ilmiah dan pengalaman pribadi. Hal ini membuat masyarakat berpikir bahwa kasus ini merupakan masalah orang lain atau sebagai hal yang akan terjadi di masa depan.
Menggunakan teori agenda setting McCombs dan Shaw (McCOMBS and Shaw, 1972), menunjukan bagaimana media dapat mempengaruhi apa yang dianggap penting oleh seseorang. Teori ini berasumsi bahwa ketika media memberikan sorotan intens terhadap suatu peristiwa, hal tersebut berdampak pada persepsi sesorang. Dalam konteks ini media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memberitakan tentang krisis polusi udara yang tengah terjadi ini.
Masyarakat di Indonesia masih kurang memahami dampak jangka panjang polusi udara, di mana survey Greenpeace Indonesia 2021 (Greenpeace, 2021) melaporkan 70% masyarakat Indonesia belum memahami betul bahaya polusijangka panjang.
Kampanye pemerintah belum menjangkau generasi melalui sosial media. Media cenderung fokus pada peristiwa besar seperti bencana alam daripada masalah jangka panjang seperti polusi. Jika hal ini tidak diperbaiki, hal ini dapat memperburuk ketidaksetaraan kelompok berpenghasilan rendah yang lebih terpapar, sementara masyarakat kelas menengah yang memiliki lebih banyak informasi lebih khawatir dan waspada, masalah krisis polusi udara ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga merugikan ekonomi jika terjadi terusmenerus.
Memperbaiki situasi ini, komunikasi risiko yang lebihdekat dan pendekatan emosional sangat diperlukan. Tindakan untuk mengurangi krisis polusi udara membutuhkan dukungan pemerintah dalam aktivitas fisik, dengan menanam pohon, kampanye menggunakan transportasi umum guna mengurangi kendaraan pribadi, serta mulai menggunakan kendaraan listrik, menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, menggunakan produk ramah lingkungan, dan menghindari limbah panas yang berlebih.
Dampak polusi udara dapat diatasi dengan langkah kecil dengan mulai memberitakan bahwasannya polusi udara kini sudah mulai memasuki keadaan gawat. Kita membutuhkan komunikasi yang lebih mendesak, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan tindakan untuk mencegah polusi udara 50% dalam dua tahun. Target utama dalam pendekatan ini adalah pemuda berusia 18-35 tahun.
Strategi seperti kampanye digital di media sosial, serta workshop offline, dapat lebih meningkatkan kesadaran dan Tindakan secara nyata. Dengan memberikan pesan yang mudah dipahami dan pendekatan emosional dapat lebih efektif.
Keberhasilan strategi ini dapat diukur dengan peningkatan pengetahuan, kesadaran masyarakat, dan perubahan perilaku dale penanganan krisis polusi udara ini.
Referensi
Kang, J. and Hong, J.H. (2021) “Framing effect of environmental cost information on environmental awareness among high school students,” Environmental Education Research, 27(6), pp. 936–953. Available at: https://doi.org/10.1080/13504622.2021.1928607.
Greenpeace Indonesia, di S. (2021) “Pengukuran Satelit Mengungkapkan,.”
Lestari, I.M.T. et al. (no date) “PEMULIHAN DAMPAK PENCEMARAN UDARA BAGI KESEHATAN DAN ANGKA HARAPAN HIDUP MASYARAKAT INDONESIA.”
McCOMBS, M.E. and Shaw, D.L. (no date) “THE AGENDA-SETTING FUNCTION OF MASS MEDIA.”





