insanimedia.id – Di atas geladak heli KRI dr. Soeharso-990, ratusan peserta lintas sektor berkumpul membahas satu ancaman yang tak kasat mata namun nyata: krisis kesehatan global. Seminar Nasional Global Health Security yang digelar RSPAL dr Ramelan dan bersama Perkumpulan Kedokteran Militer (Perdokmil) serta Koarmada II ini menjadi titik temu antara kekuatan militer, tenaga medis, akademisi, hingga organisasi kemanusiaan dalam merespons potensi pandemi di masa depan.
Berbeda dari forum pada umumnya, diskusi berlangsung di kapal rumah sakit milik TNI AL. Pilihan lokasi ini bukan sekadar simbolik, melainkan menegaskan pergeseran paradigma pertahanan bahwa ancaman biologis kini menjadi bagian dari spektrum keamanan nasional.
Dalam amanat Pangkoarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya yang dibacakan Kepala Dinas Kesehatan Koarmada II, Kolonel Laut (K) dr. Agung Kristyono ditegaskan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan militer menjadi hal krusial di tengah dinamika ancaman global.
Tenaga medis dituntut tidak hanya profesional, tetapi juga adaptif dan siap mendukung berbagai operasi, baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk penanggulangan bencana.
Di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman non-tradisional, forum ini menggarisbawahi satu hal, ketahanan kesehatan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pertahanan negara. Tanpa kolaborasi yang solid, ancaman biologis berpotensi berkembang menjadi krisis besar yang sulit dikendalikan.
“Ancaman kesehatan global, termasuk potensi pandemi baru, menuntut kesiapsiagaan bersama. Sinergi antara militer, pemerintah, dan masyarakat sipil menjadi kunci agar respons yang dilakukan bisa cepat dan tepat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).
Isu yang mengemuka dalam forum ini salah satunya adalah potensi munculnya Disease X, istilah untuk penyakit baru yang belum teridentifikasi namun berisiko memicu pandemi besar. Pengalaman COVID-19 menjadi rujukan penting bahwa keterlambatan respons dapat berdampak luas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi dan stabilitas sosial.
Mayor Jenderal TNI (Purn) dr. Prihati Pujiwaskito, Sp.JP(K), dalam keynote speech-nya menekankan bahwa ketahanan kesehatan kini telah menjadi bagian dari strategi pertahanan negara. “Keamanan kesehatan global bukan lagi isu sektoral, tetapi sudah menjadi pilar penting dalam ketahanan nasional. Negara harus mampu mengantisipasi ancaman biologis sebagaimana menghadapi ancaman konvensional,” tegasnya.
Seminar ini juga membahas peran militer dalam mendukung global health security, mulai dari mobilisasi logistik, distribusi bantuan, hingga respons cepat saat terjadi bencana dan wabah.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Perdokmil Jawa Timur, Laksamana Pertama (Purn) TNI AL Dr. drg. Nora Lelyana, M.HKes., FICD, menyebut forum ini dirancang untuk memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor. “Kami ingin membangun ekosistem kolaboratif. Tantangan ke depan tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak,” katanya.
Kehadiran organisasi kemanusiaan seperti Indonesia Berbagi Kebaikan (IBK) turut memperkaya perspektif. Direktur 1 IBK Pusat, Ir. Fatkhul Hidayat, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi krisis berbasis kesehatan. “Kami melihat isu kesehatan, terutama dalam konteks bencana dan krisis, membutuhkan kolaborasi yang nyata. IBK siap menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat respons kemanusiaan berbasis kesehatan,” ujarnya.
Selain diskusi, peserta juga mendapat kesempatan melihat langsung fasilitas medis di dalam KRI dr. Soeharso-990, yang selama ini berperan dalam berbagai misi kemanusiaan, mulai dari bantuan bencana hingga pelayanan kesehatan di wilayah terpencil.







