Blitar, insanimedia.id – Momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) 2025 menjadi pengingat keras bahwa lembaga pendidikan—mulai dari sekolah dasar, pesantren, hingga perguruan tinggi masih rentan menjadi lokasi perundungan (bullying) dan kekerasan seksual.
Fenomena ini kian meresahkan karena sering kali langgeng akibat pembiaran sistemik dan penyalahgunaan relasi kuasa oleh oknum pengajar maupun senior.
Dalam diskusi mendalam melalui podcast di kanal Youtube Bakul Kumpo, aktivis Muslimah, Lailatul Fauziyah, menyoroti bahwa normalisasi kekerasan sering dimulai dari hal kecil yang diabaikan pihak sekolah.
Berdasarkan data Komnas Perempuan yang mencatat ribuan kasus kekerasan berbasis gender setiap tahunnya, institusi pendidikan menempati urutan teratas lokasi kejadian, mengonfirmasi bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman.
Ziya, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya menanamkan mentalitas kepemimpinan sejak dini agar siswa tidak menjadi generasi yang pasrah saat ditindas.
“Menanamkan jiwa leadership ke semua siswa itu penting. Ketika punya jiwa yang berani, sesimpel untuk melawan, menghindar, atau puncaknya melapor,” tegas Ziya.
Masalah kian kompleks dengan adanya fenomena pernikahan anak yang dipicu oleh faktor ekonomi dan pengaruh media sosial yang menampilkan gaya pacaran bebas tanpa edukasi seksualitas yang memadai.
Generasi muda kini dituntut untuk lebih kritis dalam bermedia sosial dan berani bersuara melawan ketidakadilan, bukan malah memakluminya.
Menutup diskusi, Ziya mengajak seluruh penyintas dan saksi mata untuk berhenti diam demi memutus rantai impunitas pelaku.
“Takut itu wajar, tapi ini adalah tindakan yang tidak bisa kita wajari. Pelaku harus kita tangkap dan adili,” pungkasnya.







