insanimedia.id – Malam itu dulu hanya gelap oleh hujan kini kegelapan itu diganti oleh duka, air, tanah longsor, dan sunyi yang membekukan. Bencana yang melanda Pulau Sumatra di akhir November 2025 adalah tragedi kemanusiaan besar: hujan ekstrem berubah jadi saksi bisu atas kerentanan masyarakat, kegagalan mitigasi, dan panggilan mendesak bagi seluruh negeri.
“Sumatra gelap” bukan sekadar metafora. Ini adalah realita perih yang harus dibaca dan direspons.
Skala bencana: korban, pengungsian, dan wilayah terdampak
Menurut data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 November 2025: korban meninggal akibat banjir dan longsor di tiga provinsi paling parah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah menembus 442 jiwa. Sementara 402 orang masih hilang, dan ribuan lainnya terluka. Tebal kehancuran menjangkau ratusan ribu jiwa terdampak.
Dampak ini luar biasa luas:
• Infrastruktur rusak parah: jalan, jembatan, rumah, dan akses dasar hancur banyak wilayah terisolasi.
• Pengungsian massal: ratusan ribu orang mengungsi, kehilangan rumah dan asal-usul.
• Krisis logistik dan bantuan: distribusi makanan, air, obat-obatan sulit karena akses terputus dan cuaca buruk.
Beberapa titik paling parah: di Sumatra Utara banyak desa di lereng dan pinggir sungai tersapu banjir atau longsor, membuat korban termasuk ibu, anak, dan lansia. Di Aceh dan Sumatra Barat pun dampaknya terasa: rumah rusak, permukiman terendam, dan jalur transportasi lumpuh.
Sunyi dan jeritan korban: kisah manusia di balik angka
Bagi banyak warga petani, ibu rumah tangga, anak-anak, dan lansia bencana datang tanpa ampun. Sungai yang dulu tenang berubah menjadi monster bah. Hujan deras dalam hitungan jam membanjiri rumah, merusak jalan, menggulung jembatan.
Di sejumlah desa, masyarakat terbangun oleh deru air tak sempat menyelamatkan harta, tak sempat mengajak sanak saudara. Banyak yang kehilangan segalanya: rumah, dokumen, identitas, bahkan akses komunikasi.
Mereka yang selamat kini menempati tenda atau sekolah darurat dalam kedinginan, tanpa air bersih dan listrik, penuh trauma. Anak-anak menangis, orang tua bingung, lansia sakit dan kesunyian menyelimuti.
Ratusan keluarga menunggu kabar orang hilang; banyak lagi menunggu bantuan. Sunyi itu menjadi suara duka yang menggema suara jeritan manusia kecil yang tumbang oleh badai alam dan ketidaksiapan sistem.
Mengapa ini bisa terjadi: alam, iklim, dan kerentanan struktural
Pakar dan pejabat BNPB menyebut penyebab: hujan ekstrem didorong cuaca siklon tropis + monsun memicu banjir bandang dan longsor dengan skala besar di beberapa provinsi di Sumatra.
Namun, bencana kali ini juga memperlihatkan kegagalan struktural:
• Banyak pemukiman di lereng bukit, bantaran sungai, atau zona rawan longsor padahal lahan sudah rapuh.
• Tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang buruk: deforestasi, jejak pembangunan di area tanggap bencana, mengurangi daya serap air, memperparah risiko.
• Minimnya kesiapsiagaan: sistem peringatan dini, evakuasi massal, jalur evakuasi semua lemah.
• Infrastruktur rapuh: jalan, jembatan, drainase, tak dirancang untuk menghadapi ekstrem cuaca seperti ini.
Dengan perubahan iklim yang makin nyata curah hujan tak terduga, siklon tropis makin sering pola bencana seperti ini bisa terulang jika tidak ada tindakan nyata.
Respons nasional: upaya darurat, namun belum cukup
Pemerintah dan BNPB segera merespons: mengerahkan tim penyelamat, militer, relawan; membuka jalur udara dan laut; mendistribusikan logistik; mendirikan pos pengungsian; memprioritaskan wilayah terisolasi.
Namun situasinya tetap genting: jalan putus, jembatan rusak, komunikasi terputus banyak korban sulit dijangkau. Akses ke bahan pokok, air bersih, layanan medis terbatas.
Sementara itu, banyak pengungsi yang harus hidup dalam kondisi darurat: di ruang sempit, tanpa sanitasi sehat, kekurangan makanan dan trauma mendalam.
Pelajaran keras & panggilan untuk perubahan
Tragedi “Sumatra gelap” bukan sekadar soal hujan dan tanah longsor. Ia adalah alarm keras:
• Bahwa pembangunan tanpa perencanaan lingkungan bisa menghancurkan manusia.
• Bahwa perubahan iklim bukan sekadar statistik melainkan nyata, mematikan, dan sudah sampai ke depan pintu rumah kita.
• Bahwa mitigasi bencana, adaptasi lingkungan, dan tata ruang bukan pilihan tambahan tetapi kebutuhan mendesak.
• Bahwa keadilan iklim dan perencanaan ruang harus diperkuat: warga di zona rawan longsor dan banjir harus dipindahkan atau diperingatkan secara benar.
• Bahwa solidaritas dan sistem tanggap darurat harus dibangun dengan kesungguhan agar ketika alam menangis, manusia bisa merespons dengan cepat dan manusiawi.
Dari kegelapan menuju harapan: solidaritas, aksi, dan mitigasi jangka panjang
Kegelapan yang menyelimuti Sumatra bisa jadi pemicu bangkitnya kesadaran nasional.
• Persatuan: masyarakat, relawan, pemerintah harus bersinergi untuk bantu korban, memulihkan wilayah, dan bangun kembali kehidupan.
• Mitigasi jangka panjang: reforestasi, konservasi lingkungan, pembatasan pembangunan di wilayah rawan, penataan tata ruang yang berpihak pada ekologi dan keselamatan warga.
• Sistem peringatan dini & evakuasi: harus diperkuat. Sekolah, fasilitas publik, rumah harus dirancang dengan standar tanggap bencana.
• Pendidikan & kesadaran komunitas: agar warga paham risiko, tahu cara menyelamatkan diri, dan peduli lingkungan.
• Kebijakan tegas: pemerintah harus berani mengambil keputusan untuk melindungi warga — bukan hanya pertumbuhan ekonomi.
Penutup: ketika sunyi berubah jadi suara perjuangan
“Hari Ketika Sumatra Gelap” bukan sekadar judul dramatis. Ia adalah pengingat keras bahwa bencana tak cuma soal alam. Ia soal manusia, kebijakan, keadilan, dan keberlanjutan.
Ratusan jiwa telah hilang. Ribuan keluarga kehilangan rumah, harapan, dan masa depan. Namun dari duka, lahir panggilan untuk bangkit panggilan agar tragedi semacam ini tidak pernah lagi jadi “nasib”.
Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus mendengar suara itu. Suara rakyat yang terpuruk. Suara alam yang menangis. Suara kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab.
Karena ketika bumi menggigil, dan air mengalir yang kita butuhkan bukan sekadar bantuan sesaat. Tapi komitmen untuk kehidupan yang lebih aman, adil, dan berkelanjutan.





