Hikayat Tiga Serangkai, Menapak Jejak Formalitas NU Blitar

Penulis : Sulkhan Z.

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Penataran tidak lahir dari ruang hampa. Secara formal, NU Cabang Blitar resmi berdiri pada 26 Mei 1956 melalui Keputusan Konferensi Akbar yang menetapkan berdirinya Partai Nahdlatul Ulama Cabang Blitar.

Momentum ini mengukuhkan duet KH. Mochsin Wahab sebagai Rais Syuriyah dan KH. Zahid Syafii sebagai Ketua Tanfidziyah. Namun, jauh sebelum ketetapan formal tersebut, denyut organisasi ini sebenarnya telah dimulai sejak 1951 dengan komposisi kepemimpinan yang sama.

​Eksistensi NU di Blitar merupakan buah perjuangan “Tiga Serangkai” ulama kharismatik: KH. Mochsin Wahab (Dawuhan), KH. Muhammad Shofwan (Jatinom), dan KH. Muhammad Ridwan (Karangsono). Ketiganya bertindak sebagai motor penggerak utama yang merajut dukungan dari para kiai sepuh, seperti KH. Manshur Kalipucung dan KH. Sibaweh Baghowi.

Kehadiran mereka membawa misi besar untuk membumikan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di tingkat lokal sekaligus mengonsolidasikan kekuatan politik kaum sarungan pasca-kemerdekaan.  Jejak perjuangan para pendiri ini terekam dalam catatan sejarah yang heroik.

Muhammad Shofwan, misalnya, memiliki latar belakang sebagai pejuang yang pernah diasingkan kolonial Belanda ke Banda Neira pada 1926 hingga 1938 bersama tokoh bangsa seperti Bung Hatta.

Sebagai bukti sejarah, nama beliau terpampang pada prasasti tahanan politik di Banda Neira yang dikeluarkan oleh Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira.

Tak hanya itu, Kiai Shofwan menunjukkan loyalitas tanpa batas dengan “mewakafkan” putra-putrinya sebagai juru kampanye cilik Partai NU, di mana seluruh dana perjuangan yang didapat diserahkan sepenuhnya untuk kas organisasi.

​Sisi ketegasan dalam memegang prinsip juga ditunjukkan oleh KH. Mochsin Wahab. Alumni Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asyari ini dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga marwah kiai, bahkan pernah menegur bupati saat urusan ibadah dicampuri oleh urusan birokrasi.

Baca Juga :  Lautaan Putih Nahdliyin Blitar Raya Gelar Istighosah Kubro Satu Abad NU

Selain aktif di daerah, Kiai Mochsin juga merupakan tokoh nasional yang menjadi anggota Konstituante di Bandung pada 1955 mewakili Partai NU.

Sementara itu, KH. Muhammad Ridwan memperkuat basis kultural dengan menyusun Kitab Nahwu Jawan, sebuah syair gramatika Arab berbahasa Jawa agar ilmu agama lebih mudah dicerna oleh masyarakat awam.

​Struktur NU Blitar terus berevolusi mengikuti dinamika zaman. Selama hampir empat dekade, kepengurusan wilayah kota dan kabupaten masih menyatu di bawah nama “NU Cabang Blitar”.

Perubahan administratif besar baru terjadi pada Konfercab ke-11, tepatnya 14 Desember 1988, yang menandai pemisahan wilayah menjadi PCNU Kota Blitar dan PCNU Kabupaten Blitar. Pemisahan ini dilakukan untuk efektivitas dakwah dan koordinasi organisasi di masing-masing wilayah administrasi pemerintahan.