Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzulul Qur’an (Ketika Al-Qur’an Dibaca Tanpa Hikmah)

Oleh: Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

insanimedia.id – Setiap Ramadhan, umat Islam memperingati sebuah peristiwa agung dalam sejarah kemanusiaan, yaitu: Nuzulul Qur’an, turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Peristiwa itu menandai dimulainya era baru bagi umat manusia, era ketika wahyu menjadi cahaya yang menuntun kehidupan.

Ayat pertama yang turun bukanlah perintah untuk membangun kekuasaan atau menaklukkan dunia. Wahyu pertama justru berbunyi: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah membaca itu mengandung pesan yang sangat mendasar, yaitu: bahwa peradaban Islam dibangun di atas ilmu, kesadaran, dan pemahaman yang benar. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan keadilan, kebijaksanaan, dan akhlak yang mulia.

Namun sejarah juga mencatat sebuah ironi yang sangat menyedihkan: Al-Qur’an yang diturunkan sebagai rahmat bagi semesta tetapi disalahpahami oleh manusia yang membaca tanpa hikmah.

Salah satu contoh paling tragis adalah kisah Abd al-Rahman ibn Muljam al-Muradi, orang yang dikenal dalam sejarah sebagai pembunuh khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib RA.

Ibnu Muljam bukanlah sosok yang dikenal sebagai penjahat. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ia adalah seorang yang rajin beribadah. Ia dikenal sebagai pembaca Al-Qur’an (bahkan dikenal juga sebagai penghafal Al-Qur’an) dan termasuk orang yang tekun dalam ibadah.

Namun ia juga termasuk kelompok Khawarij, sebuah golongan yang muncul dalam konflik politik pada masa awal Islam. Kelompok ini dikenal sangat keras dalam memahami agama. Mereka mudah mengkafirkan orang lain dan menganggap diri mereka sebagai satu-satunya pihak yang benar. Fanatisme yang berlebihan itulah yang akhirnya menutup hati mereka.

Pada tahun 40 Hijriah di kota Kufah, Ibnu Muljam menyerang Ali bin Abi Thalib dengan pedang yang dilumuri racun ketika sang khalifah hendak menunaikan shalat Subuh di masjid.

Baca Juga :  Meilanie Buitenzorgy

Dalam keadaan terluka parah, Ali mengucapkan kalimat yang sangat menggetarkan dalam sejarah Islam: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah.” Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung. Kalimat itu menunjukkan ketenangan iman seorang sahabat Nabi yang memahami agama dengan kedalaman ruh.

Ironinya, orang yang menyerangnya adalah seorang yang rajin membaca Al-Qur’an. Di sinilah kita melihat sebuah pelajaran besar: tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an benar-benar memahami Al-Qur’an.

Tiga Tipe Pembaca Al-Qur’an dalam Sejarah Umat

Jika kita menelusuri perjalanan umat Islam, kita akan menemukan bahwa manusia berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam tingkat yang berbeda-beda. Secara sederhana, ada tiga tipe pembaca Al-Qur’an dalam sejarah umat.

1. Mereka yang hanya membaca

Ini adalah kelompok yang membaca Al-Qur’an sebagai ritual. Mereka melantunkan ayat-ayatnya dengan indah, bahkan mungkin menghafalnya, tetapi makna dan nilai-nilai Al-Qur’an belum sepenuhnya meresap ke dalam hati mereka.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan tentang munculnya orang-orang yang membaca Al-Qur’an tetapi bacaan itu tidak melewati tenggorokan mereka. Artinya, ayat-ayat itu tidak benar-benar masuk ke dalam hati.

Ibnu Muljam sering dijadikan contoh tragis dari fenomena ini. Ia membaca Al-Qur’an, tetapi pemahaman yang keliru membuatnya justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan pesan Al-Qur’an itu sendiri.

2. Mereka yang memahami

Kelompok kedua adalah mereka yang tidak hanya membaca, tetapi juga memahami pesan Al-Qur’an. Mereka berusaha merenungkan makna ayat-ayatnya dan menjadikannya pedoman dalam berpikir dan bertindak.

Mereka menyadari bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks, tetapi petunjuk hidup yang menuntun manusia menuju kebaikan. Kelompok ini adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan refleksi.

3. Mereka yang menghidupkan nilai-nilainya

Inilah tingkat tertinggi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka tidak hanya membaca dan memahami, tetapi menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Baca Juga :  Membela yang Tak Bersuara, Mengapa Saya Memilih Jalan Advokat

Sosok seperti Ali bin Abi Thalib adalah contoh nyata dari tipe ini. Ketika terluka oleh pedang Ibnu Muljam, Ali tidak menyerukan balas dendam. Ia bahkan berpesan agar pembunuhnya tidak disiksa dan tidak dihukum secara berlebihan. Sikap ini menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap nilai Al-Qur’an, yaitu: keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan.

Nuzulul Qur’an sebagai Momentum Refleksi

Kisah Ibnu Muljam dan Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita bahwa membaca Al-Qur’an saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana Al-Qur’an membentuk karakter manusia.

Ramadhan sering menjadi bulan ketika umat Islam memperbanyak tilawah. Banyak orang khatam Al-Qur’an. Masjid dipenuhi oleh lantunan ayat-ayat suci. Namun Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dan diamalkan.

Jika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri manusia, ia akan melahirkan pribadi yang penuh kasih, adil, dan bijaksana. Ia tidak akan melahirkan manusia yang mudah membenci atau menghalalkan kekerasan atas nama agama.

Renungan Ramadhan

Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa wahyu diturunkan untuk menuntun manusia menuju kematangan akhlak. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita pada bulan Ramadhan ini bukanlah berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah Al-Qur’an telah membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesama manusia?

Jika Al-Qur’an hanya berhenti di bibir, maka kita hanya menjadi pembaca. Tetapi jika Al-Qur’an masuk ke dalam hati, maka ia akan melahirkan manusia yang membawa rahmat bagi kehidupan. Dan di situlah sebenarnya makna terdalam dari Nuzulul Qur’an.