Kedaulatan SNI: Pilar Standar Nasional Menuju Acuan Global

Penulis : Ir. La Mema Parandy, S.T., M.M., CBPA., IPM.

Insani Media

insanimedia.id – Indonesia tengah menghadapi tantangan krusial dalam kedaulatan teknologi dan ekonomi. Standar Nasional Indonesia (SNI) hadir sebagai fondasi strategis untuk memutus ketergantungan standar internasional yang selama ini didominasi oleh negara maju melalui ISO. SNI bukan hanya instrumen perlindungan nasional, tetapi juga pijakan bagi Indonesia untuk berkontribusi secara nyata dalam tatanan standardisasi global.

Hingga akhir 2024, BSN telah menetapkan lebih dari 5.300 standar, dengan 130 standar wajib yang berperan penting dalam menjamin keselamatan, kesehatan, dan lingkungan. Ini adalah upaya nyata menggeser paradigma dari sekadar adopsi ISO menjadi pencipta standar global, memanfaatkan keunikan kondisi tropis dan potensi inovasi lokal seperti teknologi pangan tradisional dan material bangunan tahan gempa.

SNI dirancang dengan pendekatan konsensus nasional, yang diharmonisasikan dengan standar regional dan internasional bila sesuai, namun tetap mengutamakan konteks dan kebutuhan Indonesia. Melalui partisipasi aktif di 25 Komite Teknis dan 52 Sub-Komite ISO, BSN memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tapi pelaku aktif dengan hak suara di forum global. Strategi standardisasi nasional 2015-2025 menargetkan peningkatan peran ini untuk menguatkan posisi Indonesia dalam perdagangan bebas dan integrasi regional ASEAN.

Peran Insinyur Indonesia di Level Global

Insinyur Indonesia adalah ujung tombak dalam membawa SNI ke kancah dunia. Melalui dukungan BSN dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), para profesional dapat ambil peran sebagai expert di grup kerja ISO, mengajukan usulan kerja baru yang mencerminkan kebutuhan lokal dan mengadopsi elemen spesifik SNI dalam standar internasional.

Contoh konkret, insinyur pada TC 301 Energy Management berhasil mengadaptasi ISO 50001 menjadi SNI yang diterapkan untuk efisiensi energi di iklim tropis, memberikan kontribusi signifikan dalam pengurangan emisi industri. Selain itu, pengajuan adopsi balik (reverse adoption) standar seperti material bangunan tahan gempa telah membuka kesempatan Indonesia berperan aktif di forum global.

Baca Juga :  Membangkitkan Semangat Cendekiawan Muslim Berkontribusi Nyata Pada Umat dan Bangsa

Selain pengembangan standar, kolaborasi dengan ISO DEVCO dalam program capacity building memfasilitasi peningkatan kemampuan teknis insinyur Indonesia untuk berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam perdagangan dan perubahan iklim.

Assessment Berkelas Dunia: Jembatan Pengakuan Global

Pengakuan atas kedaulatan SNI tidak cukup hanya di tingkat dokumen; harus dibuktikan melalui proses assessment kesesuaian yang setara standar internasional. BSN mengelola akreditasi lembaga sertifikasi produk melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengacu ISO/IEC 17065, memastikan hasil audit dan sertifikasi SNI diakui secara global.

Insinyur berperan sebagai assessor yang menguji dan memverifikasi produk maupun layanan, menghasilkan sertifikasi yang sesuai dengan persyaratan ekspor dan proyek pemerintah. Contoh sukses adalah sertifikat Laik Fungsi (SLF) bangunan yang menjadi standar keamanan dalam pembangunan infrastruktur dan diakui dalam forum mutual recognition ASEAN dan WTO.

Peran insinyur juga penting dalam mempublikasikan hasil assessment sebagai bukti empiris keefektifan SNI, sehingga mendorong pengakuan dan adopsi yang lebih luas. Terlibat aktif dalam International Accreditation Forum (IAF), insinyur mendukung validasi Mutual Recognition Arrangement (MRA) yang membuka akses global bagi produk dan jasa Indonesia.

*Visi dan Tantangan Masa Depan*

Indonesia harus memperkuat investasi riset dan kapasitas SDM untuk mendukung pengembangan SNI yang berkualitas dan relevan. Langkah strategis seperti alokasi anggaran khusus, kemitraan dengan sektor swasta, serta program pelatihan intensif bagi insinyur menjadi kunci sukses.Berbagai studi kasus seperti keberhasilan SNI helm keselamatan yang menurunkan angka kecelakaan menjadi model yang dapat direplikasi di sektor lain. Mimpi besar Indonesia 2045 adalah setidaknya 500 SNI diadopsi sebagai standar internasional, memberikan kontribusi ekonomi signifikan dan kemerdekaan teknologi yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Gus Irfan, Kementerian Baru, dan Masa Depan Tata Kelola Haji

Sebagai insinyur industri dan konsultan manajemen, saya menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak dari pengguna pasif menjadi pelaku aktif dalam standardisasi global. Kedaulatan SNI dan assessment berkelas dunia bukan saja sebuah kebanggaan nasional, namun juga jalan strategis menghapuskan bayang-bayang neo-kolonialisme teknis dan membuka peluang kemajuan berkelanjutan.