Lautaan Putih Nahdliyin Blitar Raya Gelar Istighosah Kubro Satu Abad NU

Penulis : Sulkhan Z.

Insani Media

Blitar, insanimedia.id  – Stadion Soepriadi, Kota Blitar, berubah menjadi lautan putih pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Sebanyak 42.000 warga Nahdlatul Ulama (NU) dari Kota dan Kabupaten Blitar memadati stadion sejak pagi buta untuk mengikuti Istighosah Kubro memperingati 100 tahun atau satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

​Acara yang diinisiasi bersama oleh Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota dan Kabupaten Blitar ini menjadi momentum penegasan peran vital santri dan ulama dalam menjaga keutuhan negara.

Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, yang hadir memberikan sambutan, menegaskan posisi strategis NU dalam sejarah dan masa depan Indonesia.
​”Bangsa ini tidak akan tegak kalau tidak ada Nahdlatul Ulama,” ujar Syauqul di hadapan puluhan ribu jamaah.

Ia mengingatkan bahwa peringatan satu abad ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengakuan bahwa seluruh hadirin adalah penerus perjuangan Hadratus Syekh Hasyim As’ari.

​Semangat menjaga warisan pendiri bangsa juga disuarakan oleh Ketua PCNU Kabupaten Blitar, Kiai Muqorobin.

Dalam orasinya, ia menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari tetesan darah dan keringat para kiai.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah hasil jerih payah warisan yang penuh berkah dari para ulama,” tegas Kiai Muqorobin, yang disambut gemuruh tepuk tangan jamaah.

​Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Muhammad Husnan Dimyati, dalam taujihatnya mengingatkan bahwa kekuatan utama NU bukan pada fisik atau senjata, melainkan pada kekuatan spiritual.

Ia merefleksikan sejarah ketahanan NU menghadapi berbagai guncangan politik di masa lalu, termasuk saat peristiwa 1965.

​”Senjatane NU niku istighasah (Senjatanya NU itu istighosah). Apa senjata NU sing hebat saat itu? Hanya doa,” kata Kiai Husnan.

Baca Juga :  Jadi Ujung Tombak Dakwah Digital, Ansor Blitar Bekali Kader Keamanan Siber

Ia menambahkan bahwa umur panjang dan keberkahan NU hingga mencapai satu abad adalah bukti manjur dari doa-doa para ulama dan santri yang terus dipanjatkan untuk keselamatan bangsa.

​Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh sembilan kiai sepuh Blitar Raya, memohon keselamatan dan keberkahan bagi Indonesia di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.