Menilik Sejarah Lokasi Istoghotsah Kubro Harlah NU ke-100, Gema Perlawanan di Balik Rumput Hijau Soepriyadi

Penulis : Sulkhan Z.

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Di Jalan Kelud, sorak-sorai suporter PSBK Blitar kerap membahana, seolah beradu keras dengan gema sejarah yang terkubur di kota ini.Sta dion Gelora Soepriyadi bukan sekadar gelanggang seluas area pusat kota yang menampung 15.000 penonton.

Ia adalah monumen hidup yang meminjam nama Shodancho Soepriyadi, tokoh sentral pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air), yang jejaknya tak pernah benar-benar hilang meski jasadnya tak tentu rimbanya.

​Berbeda dengan anggapan umum, stadion ini tidak berdiri persis di atas bekas markas PETA. Lokasi historis kesatrian tempat para pemuda dididik dan kemudian memberontak berada di Jalan Sudanco Supriyadi, Kelurahan Bendogerit, yang kini menjadi kompleks sekolah dan Monumen PETA.

Namun, Stadion Soeprijadi di Kelurahan Kepanjenlor hadir sebagai manifestasi modern dari semangat “Bumi Patria”.

Ia menjadi titik temu antara heroisme masa lalu dengan sportivitas masa kini. ​Sejarah yang melatari nama stadion ini tercatat rapi dalam dokumen kolonial.

Berdasarkan Osamu Seirei No. 44, peraturan Jepang yang diterbitkan pada 1943, tentara PETA dibentuk untuk membantu pertahanan Jepang.

Namun, ironi sejarah terjadi. Dokumen tersebut justru menjadi awal mula terbentuknya kekuatan militer yang pada 14 Februari 1945 berbalik arah, mengarahkan mortir ke Hotel Sakura dan markas Kenpeitai, mengguncang kekuasaan militer Jepang di Jawa Timur.

​Tragedi yang mengikuti perlawanan itu menjadi nyawa bagi identitas stadion ini. Arsip Mahkamah Militer Jepang mencatat bahwa enam rekan seperjuangan Soeprijadi termasuk dr. Ismail dan Muradi dijatuhi hukuman mati di Ancol pada 16 Mei 1945.

Sementara nasib Soeprijadi sendiri tetap menjadi misteri yang menyelimuti kota. Sebuah narasi yang dijaga agar tak lekang oleh zaman melalui penamaan fasilitas publik paling vital di kota ini.

Baca Juga :  Sebanyak 666 Personil Diterjunkan untuk Amankan Pertandingan Arema FC vs Bali United

​Kini, di bawah bayang-bayang Gunung Kelud, stadion yang telah beberapa kali bersolek ini tak hanya menjadi markas klub sepak bola, tetapi juga ruang publik tempat warga merawat ingatan.

Setiap peluit pertandingan yang berbunyi di sana adalah pengingat, kebebasan untuk bertanding hari ini dibayar lunas oleh keberanian mereka yang menolak tunduk tujuh dekade silam.

Kini lokasi ini akan dijadikan Istighotsah Kubro ke-100 Nahdlatul Ulama. Ada 54 ribu dari berbagai daerah di Blitar Raya akan memadati lokasi ini pada Sabtu (24/01/2026) besok. Alunan doa akan bergema ke langit-langit Blitar dan bersama warga Nahdliyin di Blitar Raya.