Purworejo, insanimedia.id – Alunan sholawat dan doa bersama bergema penuh khidmat di depan Pendopo Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Minggu (01/02/2026) malam. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan larut dalam lantunan sholawat yang menyejukkan hati, menciptakan suasana religius penuh kekhusyukan.
Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual masyarakat Kutoarjo dalam menyongsong datangnya Bulan Suci Ramadan, sekaligus rangkaian peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo. Nuansa kebersamaan terasa kental, memadukan nilai religiusitas dan semangat peringatan hari bersejarah daerah.
Acara yang sarat makna tersebut menghadirkan sejumlah tokoh agama, di antaranya Gus Wahid Syarifuddin Ahmad dan Gus Syukron Abdulin, yang memimpin sholawat dan doa bersama. Suasana semakin syahdu dengan iringan hadroh dari Majelis As Shofa Purworejo, mengajak jamaah bershalawat dalam balutan harmoni dan ketenangan batin.
Camat Kutoarjo, Nur Huda, S.STP., M.IP., menyampaikan bahwa kegiatan gema sholawat dan doa bersama ini merupakan wujud kebersamaan seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Kutoarjo.
“Kegiatan ini kami laksanakan dalam rangka menyongsong Bulan Suci Ramadhan sekaligus memperingati Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo,” ujar Nur Huda.
Ia menjelaskan, acara tersebut melibatkan Forkopimca, para kepala desa dan lurah se-Kecamatan Kutoarjo, serta jajaran MWC NU Kecamatan Kutoarjo. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Purworejo dalam mewujudkan daerah yang religius, harmonis, dan berkarakter.
“Melalui doa bersama dan sholawatan ini, kami mendoakan para leluhur di Kecamatan Kutoarjo, serta memohon keselamatan, ketentraman, dan keamanan bagi seluruh masyarakat agar tetap adem ayem,” jelasnya.
Nur Huda berharap, kegiatan keagamaan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain meningkatkan semangat ibadah, kegiatan ini dinilai mampu memperkuat nilai-nilai kebersamaan, guyub rukun, toleransi, serta kerja sama di tengah masyarakat.
Tidak hanya menjadi momentum spiritual, gema sholawat ini juga menghadirkan berkah nyata bagi masyarakat kecil. Hal tersebut dirasakan Deni H, seorang pedagang asongan asal Magelang yang setia mengikuti berbagai kegiatan sholawatan di berbagai daerah.
Deni datang ke Kutoarjo seorang diri dengan sepeda motor, membawa dagangan berupa tikar plastik atau lemek sebagai alas duduk bagi jamaah yang tidak membawa perlengkapan.
“Saya sering, hampir semua acara sholawatan saya ikuti. Informasinya biasanya dari media sosial Facebook,” ujar Deni.
Ia mengaku biasanya membawa sekitar 50 lembar tikar dari rumah. Namun jika acara diperkirakan berlangsung besar, jumlah dagangan yang dibawa bisa mencapai 100 hingga 150 lembar.
“Alhamdulillah, sering habis,” tuturnya sambil tersenyum.
Deni menuturkan, awalnya ia hanya datang untuk mengikuti sholawatan. Seiring waktu, muncul niat untuk sekaligus berdagang demi membantu jamaah yang membutuhkan alas duduk.
Aktivitas tersebut telah ia jalani selama sekitar tiga tahun terakhir, bahkan hingga ke luar kota seperti Kebumen, Klaten, dan Semarang. “Utamanya ikut sholawatan, kedua baru sekalian berdagang,” katanya.
Menurut Deni, kegiatan sholawatan memiliki peran penting di tengah tantangan zaman saat ini. Penguatan iman, khususnya bagi generasi muda, dinilainya menjadi pondasi agar tidak mudah tergerus pengaruh negatif.
“Saya punya anak kecil. Kalau tidak dikenalkan dengan agama, saya prihatin, apalagi di zaman sekarang,” ungkapnya.
Ia berharap, kegiatan sholawatan dapat semakin sering digelar dengan proses perizinan yang lebih mudah. “Bisa dagang, bisa sholawatan, bisa jalan semua. Itu harapan saya,” pungkasnya.
Gema sholawat dan doa bersama di Kutoarjo malam itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual mampu menyatukan masyarakat lintas latar belakang. Tidak hanya mempererat ukhuwah dan meneguhkan iman, kegiatan ini juga menghadirkan keberkahan, baik secara batin maupun ekonomi, dalam menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan penuh harapan.







