OJK Dorong Kemandirian Pesantren Kediri Lewat Literasi Syariah dan Program MBG

Penulis : Andy

Insani Media

Kediri, insanimedia.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah dengan menyasar lingkungan pondok pesantren sebagai basis strategis. OJK menggelar Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) serta program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Selasa (14/04/2027).

OJK melaksanakan kegiatan ini melalui kolaborasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) guna mendorong kemandirian ekonomi pesantren sekaligus mendukung program prioritas pemerintah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa pesantren memiliki fungsi penting sebagai pusat pendidikan karakter sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Dicky menjelaskan bahwa sektor keuangan syariah memiliki keterkaitan erat dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program tersebut membuka peluang ekonomi luas bagi pelaku usaha lokal di sekitar pesantren.

“Masyarakat di sekitar pesantren—mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan dapat menjadi pemasok kebutuhan MBG. Di sini OJK berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan pelaku usaha dengan akses pembiayaan syariah yang sehat,” terang Dicky dalam sambutanya.

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyambut positif sinergi tersebut. Ia menekankan pentingnya membentuk santri yang unggul secara intelektual melalui pendidikan, didukung pemenuhan gizi yang baik dan literasi keuangan yang memadai.

Wakil Kepala BGN Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya menjelaskan bahwa Program MBG memberikan dampak berlipat bagi masyarakat. Program ini menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil dan santri, serta melibatkan banyak relawan dan pelaku usaha kecil.

OJK mengambil langkah konkret dengan menjalankan dua program utama. OJK mengedukasi santri melalui program SAKINAH bertema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa Depan Hebat” untuk meningkatkan pemahaman pengelolaan keuangan syariah dan kewaspadaan terhadap praktik keuangan ilegal.

Baca Juga :  Suasana Haru Menyelimuti Kedatangan Jenazah Sri Wahyuni Warga Blitar, Korban Kebakaran Hongkong 

Selain itu, OJK mempertemukan sekitar 150 pelaku usaha, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan pemasok dengan lembaga keuangan syariah melalui program FEBIS dalam skema business matching.

OJK menutup rangkaian kegiatan dengan meresmikan fasilitas SPPG di lingkungan pesantren serta menandatangani prasasti untuk 27 unit SPPG lainnya sebagai bentuk penguatan sinergi antara sektor ekonomi riil dan keuangan syariah.

Kepala OJK Kediri Ismirani Saputri menyatakan kebanggaannya atas peran OJK sebagai tuan rumah dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program pemerintah.

“OJK Kediri berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan santri dan pelaku usaha pesantren, tetapi juga memperkuat akses pembiayaan, mendorong pengembangan usaha yang sehat dan berkelanjutan, serta menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mandiri dan berdaya saing,” harap Ismirani Saputri.

Sejumlah pejabat OJK, tokoh pesantren seperti KH. Anwar Manshur, perwakilan perbankan syariah, serta unsur Forkopimda Jawa Timur turut menghadiri kegiatan tersebut.