Anggota Babinsa TNI AD di Kediri, Side Job Geluti Usana Budidaya Burung Kenari, Segini Pendapat Tambahnya

Penulis : Andy

Insani Media

Kediri, insanimedia.id – Seorang Prajurit TNI AD dari Koramil 02 Pesantren, Kodim 0809 Sertu Supriyadi memiliki aktivitas yang jauh berbeda dengan tugasnya sebagai anggota TNI. Disela sela kesibukannya sebagai anggota Babinsa di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Ia menyempatkan diri mengurus budidaya burung kenari merah lokal miliknya.

Hobi yang ditekuni sejak lama tersebut kini berkembang menjadi unit bisnis yang menjanjikan, sekaligus menjadi sarana hiburan di kala lelah bertugas. Sertu Supriyadi mengaku sudah mulai belajar beternak burung sejak tahun 2009 saat masih bertugas di asrama TNI di Malang.

​”Ilmu dasarnya saya dapatkan saat masih di Malang dulu. Namun, baru benar-benar saya kembangkan secara serius di Kediri pada tahun 2020,” ungkap Sertu Supriyadi ditemui di rumahnya Perumahan Doko Sragi, Kelurahan Doko Ngasem, Selasa (6/01/2025).

​Seiring berjalanya waktu kini ia  memiliki koleksi sebanyak 12 pasang indukan kenari berkualitas. Rinciannya terdiri dari 12 ekor betina dan sekitar 10 ekor pejantan. Fokus utamanya adalah kenari merah lokal yang memiliki daya tarik khusus bagi para kolektor.

​Lebih lanjut Sertu Supriyadi berbagi kiat untuk  tentang cara budidaya burung kenari yang terletak pada ketelatenan dan ketepatan waktu.

​”Kuncinya ada pada penjemuran. Minimal setengah jam hingga satu jam setiap hari agar burung tetap sehat dan aktif. Tantangannya hanya saat cuaca mendung atau musim hujan,” jelasnya.

​Ia memanfaatkan waktu luang di sela-sela memantau kondisi keamanan di Kelurahan Tinalan untuk mengurus kandang-kandangnya. Bagi Supriyadi, suara kicauan kenari bukan sekadar bisnis, melainkan “obat lelah” setelah seharian mengabdi kepada masyarakat.

​Sertu Supriyadi tidak kesulitan dalam memasarkan hasil ternaknya. Dengan bergabung dalam komunitas “Merlok Kediri”, ia cukup memanfaatkan status WhatsApp dan grup komunitas untuk promosi.

Baca Juga :  Wali Kota Syauqul Muhibbin akan Sulap Pasar Legi Blitar Jadi Pusat UMKM

​Harga yang ditawarkan sangat variatif tergantung pada usia dan kepekatan warna merah pada bulu burung:

​Anakan (0-1 Bulan): Rp250.000 – Rp350.000, Tembayan (3-8 Bulan): Rp500.000 – Rp650.000, Pejantan: Rp850.000 hingga Rp1.500.000.

​Dalam satu bulan, rata-rata ia mampu menjual 10 hingga 15 ekor burung dengan estimasi pendapatan tambahan mencapai Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.

​Usaha sampingan yang digeluti Sertu Supriyadi mendapat dukungan dari atasanya Danramil Pesantren, Kapten Inf Dwi Agus Harianto. Ia mendukung penuh para anggotanya untuk memiliki usaha sampingan selama tidak mengganggu tugas pokok TNI.

​”Saya sangat mendukung. Ini adalah langkah bagus, terutama untuk persiapan masa pensiun atau MPP (Masa Persiapan Pensiun). Kami mendorong seluruh Babinsa untuk menggali bakat atau usaha lain yang bisa menjamin masa tua nanti,” tegas Kapten Dwi Agus.

​Lebih lanjut ia berharap para prajurit memiliki rutinitas yang membawa dampak manfaat dan produktif pasca-purna tugas, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi keluarga.