Bukan Cuma Soal Nasib, Pakar Sebut Sistem Ekonomi Jadi Biang Kerok Gangguan Mental Gen Z

Penulis : Sulkhan Zuhdi

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – ​Pernahkah kamu merasa “kena mental” atau gagal total gara-gara masalah ekonomi?. Ternyata, perasaan itu bukan melulu kesalahan personal.

Jesus Anam, seorang pegiat kesehatan mental dan filsafat, mengungkapkan bahwa sistem ekonomi yang eksploitatif punya andil besar dalam merusak kesejahteraan psikis generasi muda saat ini.

​Menurut Anam, sistem kapitalisme modern cenderung merampas waktu hidup manusia melalui berbagai cara.

Ia menekankan bahwa rasa tidak berdaya yang dialami Gen Z sering kali merupakan hasil dari struktur yang tidak adil.

“Kamu gagal bukan karena kesalahan kalian, tapi karena sistem yang tidak baik. Ada akumulasi kapital yang berlebihan dan perampasan waktu kehidupan,” tegas founder Sekolah Filsafat Jalanan Blitar ini.

​Dalam obrolan santai di podcast kanal YouTube Bakul Kumpo, pria yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Jawa Timur ini juga menyoroti fenomena “healing” artifisial.

Banyak anak muda mencoba lari dari stres dengan belanja atau liburan, padahal cara ini justru kembali menjerat mereka dalam sistem konsumsi yang hanya menguntungkan pemilik modal.

“Konsep healing itu sebenarnya konsep artifisial. Seakan-akan menyelesaikan masalah, tapi ketika kita healing dengan belanja, itu kembali lagi menimbulkan masalah baru,” ungkapnya.

​Anam menawarkan solusi melalui kesadaran kritis atau “terapi filsafat”.

Ia mengajak anak muda untuk melihat realitas tanpa filter ilusi agar tidak terjebak dalam rasa bersalah yang tidak perlu. Menurutnya, mengakui kenyataan pahit adalah langkah awal pemulihan jiwa.

“Menyadari diri sebagai komoditas yang dieksploitasi itu memang pahit, tapi itu adalah obat. Kesadaran kritis adalah terapi yang paling efektif,” jelas Anam.

​Di sisi lain, ia juga menyentil minimnya fasilitas kesehatan mental dari pemerintah. Menurutnya, layanan di tingkat Puskesmas masih sangat kurang, baik dari segi tenaga ahli maupun perspektif.

Baca Juga :  Indonesia Dalam Konteks Geostrategi untuk Menghadapi Tantangan Global Kontemporer

Hal ini membuat masyarakat akar rumput sering kali kesulitan mendapatkan penanganan medis yang memadai, sehingga gangguan mental sering kali dianggap sepele atau justru diberi stigma negatif oleh lingkungan sekitar.