Blitar, insanimedia.id — Fenomena superflu yang berkaitan dengan varian terbaru virus influenza A (H3N2) subclade K ditengarai sudah masuk Indonesia. Virus influenza A ini mulai menjadi perhatian.
Varian ini merupakan hasil mutasi dari virus influenza musiman yang telah lama dikenal, namun kini menjadi lebih dominan dan menyebar di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi bahwa sejak 25 Desember 2025, sebanyak 62 kasus superflu telah terdeteksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus terbanyak tercatat berada di wilayah Jawa Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, mengatakan bahwa superflu memiliki gejala yang hampir sama dengan flu biasa, sehingga masyarakat tidak perlu panik berlebihan.
“Gejalanya hampir sama dengan flu pada umumnya, seperti demam, nyeri badan, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya.
Namun demikian, Christine menjelaskan terdapat perbedaan pada durasi penyembuhan. Jika tubuh seseorang belum pernah terpapar virus superflu sebelumnya, maka proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama dibanding flu biasa.
“Yang membedakan, kalau tubuh kita belum pernah bertemu virus superflu, masa sembuhnya cenderung lebih lama,” jelasnya.
Ia menegaskan, hingga saat ini tidak terdapat gejala yang bersifat spesifik seperti yang pernah ditemukan pada Covid-19. Oleh karena itu, penanganan dan pencegahan superflu masih mengacu pada protokol kesehatan umum.
“Tidak ada gejala yang khas seperti Covid-19 dulu. Cara pencegahannya juga sama, yang sakit sebaiknya memakai masker, terutama saat berada di tempat tertutup,” kata Christine.
Selain penggunaan masker, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga, serta memperbanyak minum air putih.
“Pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama agar tubuh mampu melawan infeksi,” pungkasnya.







