Melatih Diri untuk Ketagihan Membaca Al-Qur’an

Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

insanimedia.id – Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Mengapa? Karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Karena itu, di bulan Ramadhan kita mengkhususkan diri untuk lebih banyak, lebih khusyuk, dan lebih dalam membaca Al-Qur’an. Bukan semata-mata untuk meraih keberkahan Ramadhan dan keberkahan Al-Qur’an, tetapi juga karena kita berharap Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, obat atas berbagai penyakit hati, rahmat dalam kehidupan, dan syafaat kelak di hari hisab.

Pertanyaannya, setiap kali kita membaca Al-Qur’an, kapankah kita merasakan kenikmatan itu? Rasa indah, lega, damai, dan bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pada surat dan ayat mana kita menemukan pengalaman batin tersebut?

Sebaliknya, pada ayat mana kita merasa ditegur? Pada ayat mana kita merasa disindir, bahkan seakan-akan “ditampar” oleh pesan Ilahi yang begitu tajam dan personal? Surat apa yang membuat kita terdiam, merenung, dan mengakui kelemahan diri?

Di sinilah tantangan kita saat membaca Al-Qur’an: bagaimana menjadikan setiap perjumpaan dengan ayat-ayat-Nya sebagai pengalaman spiritual yang hidup. Membaca bukan sekadar melafalkan, tetapi merasakan. Bukan hanya menyelesaikan halaman demi halaman, tetapi menyelami makna demi makna. Hingga akhirnya kita “ketagihan” untuk terus membaca, mendalami, dan mentadaburinya.

Mungkin di antara kita masih ada yang belum lancar membaca Al-Qur’an. Masih belajar tajwid, masih memperbaiki makhraj huruf. Namun, itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak memahami isinya. Kita bisa membaca terjemahannya. Dari terjemahan itu kita menangkap maknanya. Dari makna itu kita resapi dalam hati, kita turunkan ke dalam jiwa, kita hidupkan dalam kesadaran.

Dan ketika makna itu benar-benar menyentuh, tanpa terasa air mata menetes—karena takut akan peringatan Allah, sekaligus bahagia atas janji dan kasih sayang-Nya.

Baca Juga :  Syukur Pangkal Bahagia, Tidak Syukur Bakal Menderita (Catatan kecil tentang hidup, iman, dan ketenangan)

Inilah salah satu kiat agar kita “ketagihan” membaca Al-Qur’an: menjadikannya dialog pribadi antara diri kita dan Allah.

Jika suatu saat kita melakukan khataman Al-Qur’an secara bersama, cobalah memberi tantangan kepada para jamaah dengan instruksi begini: “Tunjukkan pada ayat mana Anda merasakan kenikmatan luar biasa saat membacanya. Ayat mana yang paling menyentuh hati Anda?”

Jika ada yang menjawab bahwa selama membaca Al-Qur’an ia tidak merasakan apa-apa, maka mungkin ada yang perlu dibenahi. Bisa jadi cara membacanya, bisa jadi cara memahaminya, atau bisa jadi kesiapan hatinya.

Apa saja yang perlu diperbaiki?. Ikuti catatan ringan selanjutnya. (Bersambung…)