Blitar, insanimedia.id — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Blitar, Sugino, memimpin jajaran komisioner melakukan kunjungan strategis ke Graha NU, Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Selasa (14/4/2026). Rombongan penyelenggara pemilu ini diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar, Kiai Muqorrobin, didampingi Sekretaris H. Akhsin Alfata beserta jajaran wakil ketua. Pertemuan ini difokuskan pada penguatan sinergi kelembagaan guna menyukseskan agenda demokrasi dan menekan potensi polarisasi di Kabupaten Blitar.
Langkah jemput bola KPU ini didasari oleh peta demografi elektoral Kabupaten Blitar. Mengacu pada basis data Daftar Pemilih Tetap (DPT) siklus pemilihan terakhir yang menyentuh angka 973.287 jiwa, mayoritas pemilih secara kultural terafiliasi sebagai warga Nahdliyin. Fakta statistik ini menempatkan PCNU sebagai mitra paling esensial bagi KPU, tidak hanya untuk mendongkrak rasio kehadiran di TPS, tetapi juga untuk merawat kualitas dan rasionalitas pemilih.
”Kami menyadari keberhasilan pemilu tidak sebatas pada manajemen logistik, tetapi juga pada kualitas literasi warga. Sinergi dan pencerahan dari para ulama sangat kami butuhkan untuk mendinginkan suhu politik sekaligus memberikan edukasi di akar rumput,” papar Sugino, Ketua KPU Kabupaten Blitar.
Merespons ajakan kolaborasi tersebut, PCNU Kabupaten Blitar menyatakan kesiapan strukturalnya untuk mendukung penuh program kerja KPU. Melalui infrastruktur organisasi yang solid dari tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) hingga anak ranting, PCNU akan mengoptimalkan ruang-ruang dakwah sebagai sarana pendidikan politik yang mencerahkan.
Sekretaris PCNU Kabupaten Blitar, H. Akhsin Alfata, menegaskan bahwa mengawal proses demokrasi adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan NU. “PCNU Kabupaten Blitar siap berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada warga Nahdliyin agar tercipta iklim politik yang sehat, damai, dan bermartabat. Kami ingin memastikan masyarakat tidak mudah terprovokasi isu negatif,” ungkap Akhsin.
Diskusi yang berlangsung hangat di Graha NU ini diakhiri dengan kesepakatan mitigasi sosial bersama. Kolaborasi antara otoritas kepemiluan dan elemen kultural-religius terbesar di Blitar ini diproyeksikan mampu menjadi peredam (bantalan sosial) terhadap maraknya disinformasi, sekaligus menjamin proses demokrasi berjalan inklusif dan bermutu.







