Harga Telur Puyuh Anjlok, Peternak Blitar Tertekan Biaya Pakan

Penulis : Rizma N.A.

Insani Media

Blitar, insanimedia.id — Harga telur puyuh di tingkat peternak mengalami penurunan tajam setelah Hari Raya Idulfitri. Penurunan ini membuat peternak menghadapi tekanan, karena harga jual melemah sementara biaya produksi justru meningkat.

Peternak puyuh, Noki, menyampaikan bahwa harga telur puyuh di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram, atau sekitar Rp170–Rp190 per butir. Sementara itu, pedagang menjualnya di kisaran Rp26 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Noki membandingkan kondisi tersebut dengan situasi menjelang akhir Ramadan. Ia menyebut harga telur puyuh sempat melonjak pada 10 hari terakhir puasa hingga lebih dari Rp37 ribu per kilogram, bahkan mencapai Rp42 ribu per kilogram, dengan harga per butir sekitar Rp400.

“Setelah hari raya, harga mulai turun. Penurunannya bisa mencapai Rp4 ribu per hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, harga telur puyuh di tingkat peternak berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, atau sekitar Rp270–Rp320 per butir. Ia menilai penurunan harga kali ini lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya.

“Biasanya paling rendah Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per kilo. Kali ini turun sampai Rp16 ribu,” katanya.

Noki menambahkan bahwa kenaikan harga saat Ramadan dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar. Program MBG yang tetap berjalan selama puasa tanpa menyediakan nasi mendorong masyarakat memilih telur rebus sebagai alternatif konsumsi.

Setelah Lebaran, permintaan kembali normal seiring program tersebut kembali menyediakan nasi. Di sisi lain, produksi yang sudah berjalan tidak sepenuhnya terserap pasar, sehingga terjadi kelebihan pasokan yang memicu penurunan harga.

Peternak juga menghadapi kenaikan harga pakan ternak dalam beberapa waktu terakhir. Pada tahun 2025, harga pakan berada di kisaran Rp325 ribu per karung. Memasuki awal tahun 2026, harga naik menjadi Rp330 ribu, dan setelah Lebaran kembali meningkat menjadi Rp337.500 per karung.

Baca Juga :  Kejari Sidoarjo Tahan 4 Tersangka Kasus Hibah Pemprov Jatim

Kondisi tersebut menekan margin usaha peternak, bahkan dalam beberapa kasus harga jual belum mampu menutup biaya produksi.

“Harapannya, harga bisa kembali stabil dalam waktu dekat,” pungkasnya.