Pembangunan yang Tergesa dan Keselamatan yang Terabaikan, Kritik atas Kecelakaan Kereta Bekasi

Oleh : Mohamad Isyamudin Konsultan Hukum

Insani Media

 

insanimedia.id – Perkembangan kota-kota penyangga ibu kota dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan laju pembangunan yang sangat cepat. Narasi modernisasi, konektivitas, dan efisiensi transportasi menjadi kata kunci dalam berbagai kebijakan pembangunan perkotaan. Kota-kota di sekitar Jakarta diproyeksikan sebagai ruang urban yang maju, terintegrasi, dan mampu menopang mobilitas jutaan orang setiap hari. Namun, di balik ambisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah seluruh sistem yang menopang percepatan pembangunan itu benar-benar telah siap? Kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi menjadi peristiwa yang memaksa publik meninjau kembali asumsi tentang kesiapan infrastruktur dan tata kelola keselamatan transportasi.

Pembangunan transportasi publik sering dipahami sebagai simbol kemajuan kota. Jalur kereta yang semakin padat, peningkatan frekuensi perjalanan, serta integrasi dengan berbagai moda transportasi lain dianggap sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Namun, modernisasi transportasi tidak semata-mata soal memperbanyak layanan atau mempercepat mobilitas. Ia juga menuntut kesiapan sistem yang lebih kompleks, mulai dari manajemen operasional, pemeliharaan infrastruktur, hingga standar keselamatan yang ketat. Tanpa kesiapan tersebut, percepatan pembangunan justru berpotensi menghasilkan kerentanan baru.

Kecelakaan kereta di Bekasi memperlihatkan adanya paradoks dalam proses pembangunan perkotaan. Di satu sisi, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan transportasi sebagai bagian dari strategi modernisasi kota. Di sisi lain, peristiwa kecelakaan menunjukkan bahwa aspek keselamatan belum selalu memperoleh perhatian yang setara dengan ambisi pembangunan. Situasi ini mencerminkan sebuah ironi: kemajuan secara simbolik dipromosikan secara intensif, sementara kesiapan sistem yang menopangnya sering kali tertinggal.

Dalam perspektif kebijakan publik, keselamatan transportasi seharusnya menjadi prinsip dasar yang tidak dapat ditawar. Transportasi publik melibatkan mobilitas massal dan menyangkut keselamatan ribuan orang setiap hari. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan transportasi harus didasarkan pada prinsip kehati-hatian, evaluasi risiko, serta pengawasan yang ketat. Kecelakaan kereta, dalam konteks ini, tidak dapat sekadar dipahami sebagai peristiwa teknis atau kesalahan operasional semata. Ia juga merupakan indikator adanya persoalan struktural dalam sistem pengelolaan transportasi.

Baca Juga :  Ismail Namsa Anggota DPRD Kabupaten Blitar Tekankan Pembangunan yang Selaras Atas hingga Bawah

Salah satu persoalan yang sering muncul dalam pembangunan yang dipercepat adalah kecenderungan untuk menempatkan capaian fisik sebagai ukuran utama keberhasilan. Infrastruktur baru, peningkatan kapasitas layanan, atau proyek transportasi yang selesai tepat waktu sering dijadikan indikator kemajuan. Namun, pendekatan semacam ini kerap mengabaikan dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu keberlanjutan sistem dan keamanan operasional. Ketika orientasi pembangunan terlalu berfokus pada percepatan dan pencapaian target, aspek keselamatan berisiko menjadi prioritas sekunder.

Kecelakaan kereta di Bekasi dapat dibaca sebagai refleksi dari problem tersebut. Ia menunjukkan bahwa pembangunan transportasi tidak hanya membutuhkan investasi pada infrastruktur, tetapi juga pada sistem pengawasan, perawatan, dan manajemen risiko. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, infrastruktur yang tampak modern sekalipun dapat menyimpan potensi bahaya yang tidak terlihat.

Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan bahwa pembangunan transportasi publik tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab negara dalam melindungi keselamatan warganya. Dalam konsep negara hukum modern, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap layanan publik yang disediakan memenuhi standar keamanan yang memadai. Keselamatan bukanlah aspek tambahan dalam kebijakan transportasi, melainkan bagian integral dari hak masyarakat sebagai pengguna layanan publik.

Sayangnya, dalam praktik pembangunan perkotaan yang sangat kompetitif, keselamatan sering kali menjadi isu yang baru mendapatkan perhatian serius setelah terjadi insiden. Pola ini menunjukkan adanya problem dalam cara kita memahami pembangunan itu sendiri. Kemajuan sering diukur dari kecepatan perubahan fisik kota, bukan dari kualitas sistem yang menopangnya. Akibatnya, pembangunan berjalan cepat secara visual, tetapi tidak selalu diiringi dengan penguatan institusi dan sistem pengawasan.

Dalam konteks Bekasi, kecelakaan kereta seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola transportasi publik. Evaluasi tersebut tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga aspek kebijakan dan kelembagaan. Pemerintah perlu memastikan bahwa standar keselamatan benar-benar diterapkan secara konsisten, bukan sekadar menjadi regulasi yang tertulis di atas kertas.

Baca Juga :  Magang 20.000 Lulusan: Saatnya Dunia Industri dan Kampus Bertemu di Jalan Tengah

Lebih jauh lagi, peristiwa ini juga mengundang refleksi yang lebih luas mengenai arah pembangunan perkotaan di Indonesia. Modernisasi kota memang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari, terutama dalam menghadapi pertumbuhan penduduk dan mobilitas yang semakin tinggi. Namun, modernisasi yang dipaksakan tanpa kesiapan sistem justru berpotensi menghasilkan risiko yang lebih besar. Kota yang maju seharusnya tidak hanya ditandai oleh infrastruktur yang megah atau mobilitas yang cepat, tetapi juga oleh sistem yang aman, tertib, dan dapat diandalkan.

Dengan demikian, kecelakaan kereta di Bekasi seharusnya tidak berhenti sebagai berita sesaat yang segera dilupakan. Ia perlu dibaca sebagai peringatan bahwa pembangunan yang tergesa dapat menimbulkan konsekuensi serius ketika tidak diimbangi dengan kesiapan sistem keselamatan. Kritik terhadap peristiwa ini bukan semata-mata untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk menegaskan bahwa keselamatan publik harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pembangunan transportasi.

Jika pembangunan perkotaan terus dipacu tanpa memperkuat sistem keselamatan, maka narasi kemajuan yang selama ini digaungkan berisiko menjadi sekadar retorika. Kota mungkin terlihat semakin modern, tetapi masyarakat tetap menghadapi kerentanan yang sama. Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi seberapa cepat kota berkembang, melainkan seberapa aman kehidupan yang ditopang oleh pembangunan tersebut.