Kediri, insanimedia.id – PG Ngadiredjo Kediri menggelar tradisi cethik geni atau slow firing di stasiun ketel pada Jumat Legi, 24 April 2026, sebagai tanda kesiapan menghadapi musim giling 2026. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan kehadiran tokoh masyarakat, kelompok tani, serta jajaran manajemen.
General Manager PG Ngadiredjo, Wayan Mei Purwono, menyatakan bahwa proses slow firing atau pembakaran bertahap pada boiler bertujuan meningkatkan suhu secara merata sekaligus menjadi simbol kesiapan pabrik. “Dengan dinyalakan di jumat legi ini dengan harapan tebu kita benar legi (manis) dan berkah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa PG Ngadiredjo akan melaksanakan pethik tebu perdana pada Sabtu, 25 April 2026, sebelum memasuki panen secara menyeluruh. “Insyaallah tebu masuk pada 8 mei, dan 9 mei 2026 PG Ngadiredjo start giling,” tegas Wayan.
Pada musim giling 2026, PG Ngadiredjo menargetkan pengolahan tebu sebanyak 11 juta kuintal dengan rendemen 7,5 persen dan produksi gula mencapai 82.500 ton. “Ini adalah target yang fantastis, semoga dengan gotong royong dengan petani dan semua yang terkait target ini bisa tercapai,” tegasnya.
Manajer Instalasi PG Ngadiredjo, Marsis Bintoro, menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan sekitar 400 ton ampas sebagai bahan bakar untuk proses cethik geni. Persiapan tersebut mendukung pelaksanaan steam test atau general test sebelum produksi berjalan penuh.
Ke depan, PG Ngadiredjo akan menambah stok bahan bakar ampas karena kebutuhan selama musim giling mencapai 600 hingga 700 ton. “Dan kami sudah siap untuk menyongsong sukses giling 2026,” pungkasnya.







