Satu dari Dua Anak Indonesia Alami Kekerasan, Masihkah Ada Ruang Aman ?

Penulis : Sulkhan Z.

Insani Media
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan perkosa rudapaksa (freepik)

Blitar, insanimedia.id  – Rasanya baru kemarin kita mendengar kabar duka dari Tomohon tentang mahasiswi Unima yang tewas meninggalkan surat pilu soal dugaan pelecehan.

Namun kenyataannya, tragedi itu hanyalah satu kepingan dari potret besar yang mengerikan: separuh anak Indonesia ternyata tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan.

Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan angka 50,78% anak pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya—sebuah “alarm” keras bahwa ruang aman kini menjadi barang mewah.

​Fenomena ini dipandang sangat kompleks oleh Lailatul Fauzizah, Ketua KOPRI Komisariat UNU Blitar.

Menurutnya, kekerasan terus berulang karena adanya faktor yang saling berkelindan, mulai dari kecanduan pornografi di sisi pelaku, hingga kurangnya pengawasan dan batasan dalam pergaulan.

​“Ibarat kalau kita punya ikan dan tidak ingin ikan itu dicuri oleh kucing, maka jagalah. Saya tidak melarang perempuan berpakaian terbuka, karena itu haknya, tapi kita juga harus tahu batasan situasi dan tempat agar tetap aman,” ujar Lailatul saat menyoroti pentingnya menciptakan ruang aman bagi diri sendiri.

Lailatul Fauzizah Ketua KOPRI Komisariat UNU Blitar
Lailatul Fauzizah, Ketua KOPRI Komisariat UNU Blitar

​Namun, urusan menjadi makin pelik saat kasus-kasus ini masuk ke wilayah yang punya tembok tinggi bernama ‘relasi kuasa’.

Di Blitar sendiri, Lailatul mengaku geram melihat banyak kasus kekerasan, bahkan di lingkungan pendidikan agama, yang sengaja “dipadamkan” tanpa jejak demi menjaga nama baik institusi atau karena posisi pelaku yang kuat.

​“Saya sudah terlalu muak dengan kemunafikan pelaku yang masih bisa tertawa. Lagi-lagi kita kalah di relasi kuasa. Jabatan jadi faktor karena mereka merasa punya ‘dekengan’ (pelindung) sehingga merasa tidak akan ada yang bisa mengalahkan,” ungkapnya dengan nada kecewa.

​Menanggapi rantai kekerasan yang seolah tak berujung, ia menekankan bahwa orang tua harus lebih melek terhadap aktivitas digital anak.

Baca Juga :  UNU Blitar dan Pemkot Blitar Jalin Kerja Sama Strategis untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perekonomian

Selain itu, ia mengajak kaum perempuan untuk membangun “kekuatan baru” melalui solidaritas komunitas dan keberanian bersuara di ruang digital untuk melawan ketidakadilan hukum.

​“Hari ini jika kita kalah dengan hukum dan relasi kuasa, kita manfaatkan relasi netizen dengan media sosial. Perbanyak forum perempuan untuk memperkuat kebersamaan dan jangan ragu merekam sebagai bukti jika sedikit saja merasa terancam,” tegas Lailatul menutup perbincangan.