Blitar, insanimedia.id – Musim kemarau mendorong petani di Kota Blitar mengubah pola tanam dari padi menjadi tanaman palawija. Jagung menjadi komoditas yang paling banyak dipilih karena dinilai lebih mampu bertahan pada kondisi ketersediaan air yang terbatas dibandingkan tanaman padi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dian Lukita Sari, mengatakan perubahan pola tanam tersebut merupakan langkah yang diambil petani untuk meminimalkan risiko gagal panen selama musim kemarau.
“Memasuki musim kemarau, mayoritas petani beralih ke palawija seperti jagung dan hortikultura. Sedangkan padi hanya ditanam di lokasi yang masih memiliki ketersediaan air memadai,” ujarnya.
Berdasarkan data DKPP Kota Blitar, luas lahan pertanian yang mencapai 975 hektare kini didominasi tanaman jagung seluas sekitar 683 hektare. Sementara itu, komoditas hortikultura menempati lahan sekitar 31 hektare, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk berbagai tanaman lain, termasuk padi di kawasan yang masih memiliki pasokan air yang cukup.
Dian menjelaskan bahwa jagung dan tanaman hortikultura menjadi pilihan utama petani karena lebih mudah beradaptasi dengan curah hujan yang rendah. Menurutnya, pergeseran jenis tanaman tersebut hampir selalu terjadi setiap musim kemarau sebagai bentuk penyesuaian terhadap perubahan kondisi iklim.
“Perubahan musim memang berdampak langsung terhadap jenis komoditas yang dibudidayakan petani. Karena itu kebanyakan petani langsung melakukan pergeseran tanam ketika memasuki musim kemarau,” katanya.
DKPP Kota Blitar terus memberikan pendampingan kepada petani melalui penyuluh pertanian guna menjaga produktivitas lahan selama musim kemarau. Pendampingan tersebut meliputi penerapan teknik budidaya yang hemat air serta pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Kami terus mendampingi petani agar produktivitas tetap terjaga meski menghadapi musim kemarau,” pungkasnya.







