JOMBANG, INSANIMEDIA.ID – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Katib Syuriyah PBNU Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., mengimbau seluruh kader dan peserta untuk tegak menjaga kemandirian organisasi. Ia secara tegas menolak segala bentuk intervensi eksternal dan menyebut pihak yang mencoba mendikte urusan internal NU sebagai musuh bersama.
Dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (26/8/2026), pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut menekankan bahwa NU harus terbebas dari tekanan dan kepentingan politik pragmatis kelompok mana pun.
”Siapapun yang mencoba mendikte, menekan, atau campur tangan dalam urusan internal organisasi harus disikapi sebagai musuh bersama yang ingin merecoki keutuhan NU,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut.
Gus Hilmy mengingatkan, para utusan muktamar adalah kader yang merdeka dan memiliki kedaulatan penuh. Ia mendorong penggunaan hak suara secara independen dengan mengedepankan nalar kemaslahatan umat, bukan tunduk pada tekanan pihak luar yang bermaksud memanfaatkan besarnya organisasi NU.
Lebih lanjut, Anggota DPD RI ini merefleksikan sejarah berdirinya NU lewat simbol tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Menurutnya, pesan filosofis al-‘asho liman ‘asho mengisyaratkan kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral. Kepemimpinan tersebut membutuhkan ketulusan dan keberanian (syaja’ah), sehingga tidak boleh diturunkan menjadi sekadar komoditas tawar-menawar politik sesaat.
Sebagai penutup, Wakil Ketua Komisi Ukhuwah MUI DIY ini mengajak seluruh elemen nahdliyin mengawal muktamar secara khidmat, bermartabat, dan gembira. Hal tersebut dinilai krusial untuk merealisasikan tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” demi menyongsong kemandirian NU di abad keduanya.







