BLITAR, insanimedia.id — Ratusan warga memadati area trotoar di depan Kantor Kabupaten Blitar untuk mengikuti agenda pemutaran film (nobar) dan mimbar bebas pada Minggu (27/9/2026) malam.
Kegiatan yang digagas oleh Aliansi Ruang Sipil Blitar ini digelar dalam rangka memperingati “September Hitam”. Mengusung tema “Merawat Ingatan, Menjaga Sesama: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”, forum ini sekaligus menjadi ruang konsolidasi gerakan warga di tingkat lokal.
Nobar Dokumenter dan Refleksi Isu Daerah
Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter berjudul Makin Ditekan Makin Melawan, sebuah karya yang mengangkat isu kriminalisasi terhadap para aktivis pasca-aksi Agustus 2025. Sesi ini dipandu langsung oleh pegiat sosial, Jesus Anam.

Usai pemutaran film, Koordinator Aksi Rebut Ruang Publik #2, Reyda Hafis, tampil menyampaikan pandangannya di hadapan warga yang hadir. Reyda menilai bahwa pesan dalam film tersebut sangat relevan dengan situasi di Blitar saat ini.
”Film ini adalah cermin dari apa yang terjadi di Blitar hari ini,” tegas Reyda.
Ia mengklaim persoalan represi tidak hanya terjadi di level nasional melalui kasus-kasus tahanan politik, tetapi juga nyata terasa di daerah. Ia menyinggung beberapa isu lokal, seperti penggusuran perpustakaan sekolah dan pembiaran kerusakan lingkungan di Blitar, sebagai contoh yang menunjukkan adanya pola serupa.
Menutup orasinya, Reyda menegaskan bahwa agenda pemutaran film dan diskusi jalanan semacam ini akan terus digalakkan sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat akar rumput. “Semakin kami ditekan, solidaritas warga Blitar akan semakin berlipat ganda,” pungkasnya.
Sorotan Terhadap Menyempitnya Ruang Kebebasan Sipil
Isu menyempitnya ruang kebebasan sipil yang disinggung dalam forum akar rumput tersebut rupanya sejalan dengan catatan dari lembaga negara.
Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Amiruddin Al Rahab, sebelumnya pernah menyebut bahwa, “Komnas HAM berada dalam tarikan antara negara dan civil society.” Ketegangan inilah yang menurutnya senantiasa menuntut lembaga tersebut untuk tetap independen.
Amiruddin juga menyoroti bahwa perubahan format ketatanegaraan belakangan ini turut berdampak pada melemahnya respons kelembagaan negara. Hal ini berpotensi besar memengaruhi penyempitan ruang kebebasan sipil, tidak hanya berpusat di ibu kota, tetapi merembet hingga ke daerah-daerah.
Konsolidasi Gerakan Mahasiswa dan Warga
Kegiatan ini diikuti oleh beragam elemen kemahasiswaan, di antaranya PMII, HMI, dan GMNI. Turut hadir pula sejumlah komunitas lokal seperti Verde Rose, Lapak Baca Ceria, FORSA, hingga Sekolah Filsafat Jalanan Jatim.
Seluruh rangkaian acara berlangsung tertib di ruang terbuka publik hingga berakhir pada pukul 22.00 WIB, yang ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap bersama oleh perwakilan aliansi.







