Blitar, insanimedia.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memetakan sejumlah wilayah yang capaian Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) masih berada di bawah target. Puskesmas Sutojayan, Binangun, dan Ponggok menjadi prioritas pembinaan karena persentase imunisasi di ketiga wilayah tersebut belum mencapai target minimal 97 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, mengatakan ketiga puskesmas tersebut akan menjadi fokus evaluasi sekaligus perbaikan pelaksanaan BIAS pada 2026.
“Untuk wilayah yang menjadi fokus peningkatan tahun ini ada Puskesmas Sutojayan, Puskesmas Binangun, dan Puskesmas Ponggok karena capaiannya masih di bawah target 97 persen,” ujarnya, Minggu (5/7).
Anggit menjelaskan, secara keseluruhan pelaksanaan BIAS di Kabupaten Blitar menunjukkan hasil yang menggembirakan. Cakupan imunisasi di daerah tersebut telah melampaui target nasional meskipun masih terdapat beberapa wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.
Data Dinkes Kabupaten Blitar mencatat cakupan imunisasi siswa kelas 1 mencapai 98,19 persen dan 97,25 persen untuk jenis imunisasi lainnya. Sementara itu, cakupan imunisasi pada siswa kelas 2 mencapai 97,44 persen, siswa kelas 5 sebesar 97,74 persen, dan imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi siswi berhasil mencapai 97,85 persen.
Menurut Anggit, Dinkes akan melakukan evaluasi mendalam terhadap tiga puskesmas tersebut untuk mengidentifikasi penyebab rendahnya capaian imunisasi. Evaluasi akan mencakup berbagai aspek, mulai dari mobilitas siswa, keterbatasan jadwal pelaksanaan di sekolah, hingga tingkat pemahaman dan kesadaran orang tua terhadap pentingnya imunisasi.
“Kami ingin mengetahui faktor yang memengaruhi capaian di lapangan, apakah karena mobilitas siswa, keterbatasan waktu pelaksanaan, atau faktor lain yang berkaitan dengan kesadaran orang tua,” jelasnya.
Dinkes Kabupaten Blitar akan memanfaatkan hasil evaluasi tersebut sebagai dasar penyusunan strategi pelaksanaan BIAS pada tahun berikutnya. Upaya itu akan dilakukan dengan memperkuat koordinasi antara puskesmas, sekolah, serta kader kesehatan agar pelaksanaan imunisasi dapat berjalan lebih optimal dan merata di seluruh wilayah.
“Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah yang masih rendah sekaligus menjaga perlindungan kesehatan anak-anak sekolah dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” pungkasnya.







