Blitar, insanimedia.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar mulai menyiapkan penyaluran air bersih setelah dua desa di Kecamatan Wates terdampak kekeringan pada musim kemarau. Berkurangnya debit air sumur warga menjadi penyebab utama munculnya krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, mengatakan hasil pemetaan dan verifikasi lapangan yang dilakukan sejak awal Juli 2026 menunjukkan Desa Tugurejo dan Desa Sukorejo mulai mengalami kekeringan. Di Desa Tugurejo, sekitar 10 RT telah terdampak, sedangkan di Desa Sukorejo kondisi serupa terjadi di dua RT. Beberapa wilayah lainnya masih dalam pemantauan karena berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air.
Menurunnya debit air sumur membuat sebagian warga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sebagai langkah antisipasi, BPBD menyiapkan delapan tandon berkapasitas 1.200 liter yang akan ditempatkan di sejumlah titik distribusi.
“Penyaluran air bersih direncanakan mulai 20 Juli 2026. Pemerintah desa akan mengambil tandon dari BPBD untuk ditempatkan di beberapa titik sehingga memudahkan proses distribusi kepada masyarakat,” ujar Wahyudi.
Kepala Desa Tugurejo, Supangat, menjelaskan bahwa dampak kekeringan belum terjadi di seluruh wilayah desa. Meskipun sekitar 10 RT mulai merasakan penurunan pasokan air, sebagian warga masih dapat memanfaatkan sumur yang debit airnya tetap mencukupi.
” Kami juga sudah mendapat bantuan tandon dari BPBD dan rencananya mulai minggu depan akan ditempatkan di beberapa titik sebagai persiapan distribusi air bersih,” kata Supangat.
Selain menyiapkan distribusi air bersih, pemerintah desa bersama masyarakat memanfaatkan sumur bantuan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dengan memasang pompa listrik secara swadaya. Sementara itu, pembangunan sumur bor bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Blitar masih terus berlangsung sebagai upaya jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau.







