BLITAR, insanimedia.id – Upaya menekan angka prevalensi tengkes (stunting) di Jawa Timur terus dipacu melalui kolaborasi lintas sektor. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Golkar, Heru Tjahjono, menggandeng Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya menggelar sosialisasi bertajuk “Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Keamanan Pangan” di Balai Samiasa, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Garum, Blitar, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan ini menjadi krusial mengingat target nasional penurunan stunting berada di angka 14 persen. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), meski tren prevalensi stunting di Kabupaten Blitar menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, intervensi pada pola asuh dan kualitas konsumsi pangan di tingkat rumah tangga masih menjadi tantangan utama.

Dalam keterangannya, Heru Tjahjono menyoroti kaitan antara pola asuh digital dan tumbuh kembang anak. Ia menekankan bahwa stimulasi fisik jauh lebih penting bagi balita dibandingkan paparan gawai (gadget) yang berlebihan.
”Kami pada saat sosialisasi selalu menyampaikan kepada ibu-ibu, apalagi khususnya ibu-ibu muda, agar anak putra-putranya yang masih kecil, kalau bisa tidak perlu dikasih HP ini. Banyak informasi yang kami terima, baik dari dokter, para profesor yang menangani tumbuh kembang anak, bahwa HP ini sangat merugikan untuk anak-anak,” ujar Heru.
Heru menambahkan bahwa kurangnya aktivitas fisik akibat penggunaan gawai dapat menghambat kemampuan adaptasi dan motorik anak, yang secara tidak langsung berpengaruh pada kualitas kesehatan jangka panjang mereka.
”Komunikasinya kurang lancar, kurang bisa beradaptasi, sensitifnya kurang, dan motoriknya juga kurang. Oleh sebab itu, kita berikan mainan agar mereka kembali lagi seperti kami waktu kecil: aktif dan mempunyai kemampuan motorik yang baik,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Yuli Ekowati, Tim Pelaksana Pelayanan Permintaan Informasi dan Pengaduan BBPOM Surabaya, memberikan edukasi teknis mengenai pentingnya membaca label pangan. Data BBPOM menunjukkan bahwa risiko gizi buruk sering kali berawal dari konsumsi pangan olahan yang tidak memenuhi syarat keamanan gizi atau mengandung Bahan Berbahaya (BB).
Yuli mengingatkan warga untuk selalu menerapkan “Cek KLIK” (Kemasan, Label, Izin Edar, Kedaluwarsa) sebelum membeli produk. Hal ini bertujuan agar masyarakat, terutama ibu rumah tangga, dapat memastikan asupan gizi yang masuk ke tubuh anak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan bebas dari kandungan zat kimia berbahaya yang dapat memicu gangguan kesehatan kronis.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat dan anggota DPRD Kabupaten Blitar dari Fraksi Golkar, Hari Margono dan Ismail Namsa. Dalam sambutannya, mereka menyatakan komitmen untuk mengawal kebijakan anggaran di tingkat daerah yang berfokus pada ketahanan pangan keluarga dan penguatan kader Posyandu di Kecamatan Garum.
Acara ditutup dengan pemberian bantuan mainan edukatif secara simbolis oleh Heru Tjahjono kepada para ibu peserta sosialisasi sebagai langkah konkret mengalihkan ketergantungan anak pada gawai menuju aktivitas motorik yang lebih sehat.







