Purworejo, insanimedia.id – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat An-Nawawi mengukuhkan 17 mahasiswa berlatar belakang santri melalui prosesi baiat dalam kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA). Panitia menggelar kegiatan tersebut di TPQ Nurul Kalam, Kroyo, Gebang, Purworejo, pada Kamis (22/10/2026) dini hari, bertepatan dengan momentum Hari Santri.
Mandataris Ketua Komisariat PMII An-Nawawi, Muhammad Arwani, menjelaskan bahwa prosesi baiat menjadi bagian penting dalam kaderisasi organisasi. Melalui ikrar tersebut, calon anggota menegaskan kesediaan mereka untuk bergabung dan menjalani proses pengaderan di PMII.
“Tujuan diadakannya baiat di PMII adalah untuk meneguhkan, menegaskan, dan untuk mengesahkan komitmen bahwa bersedia masuk dalam organisasi PMII dalam bentuk ikrar janji,” ucap Arwani.
PMII Aliansi Rayon K. H. R. Damanhuri dan Rayon K. H. Ahmad Maisur Sindi menyelenggarakan MAPABA pada 19–22 Oktober 2026. Panitia memulai kegiatan pada 19 Oktober, kemudian memberikan enam materi dasar ke-PMII-an selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Oktober 2026. Materi tersebut mencakup berbagai pembahasan dasar organisasi, mulai dari Analisis Diri hingga Aswaja.
Setelah menyelesaikan rangkaian materi, panitia mengadakan sarasehan pada malam 21 Oktober. Peserta kemudian menjalani prosesi baiat pada dini hari 22 Oktober. Panitia melanjutkan agenda dengan Rapat Tindak Lanjut (RTL) dan menutup seluruh rangkaian kegiatan pada Kamis siang.
Ketua Panitia, Faaza Abdul Karim, menyampaikan bahwa seluruh peserta MAPABA merupakan mahasiswa Institut Agama Islam An-Nawawi (IAIAN) Purworejo. Sebanyak 17 mahasiswa tersebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan menunjukkan minat untuk aktif dalam organisasi mahasiswa.
“Peserta MAPABA dari kalangan Mahasiswa yang berminat untuk join atau ikut dalam organisasi PMII dan jumlah peserta pada kegiatan MAPABA ini yaitu 17 orang dan semua dari Mahasiswa institut agama Islam annawawi (IAIAN), dimana notabenenya adalah kampus berbasis pondok pesantren. Maka dari itu 17 peserta yang mengikuti kegiatan MAPABA ini semua berlatar belakang santri dan semua siap untuk berdinamika dan siap untuk menyelaraskan antara ngaji dan berorganisasi,” ujar Faaza.
Faaza menjelaskan bahwa MAPABA menjadi salah satu langkah PMII untuk melanjutkan regenerasi sekaligus membentuk kader yang militan dan memiliki loyalitas terhadap organisasi. Proses kaderisasi tersebut bertujuan membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertakwa, berbudi luhur, berilmu, cakap, serta bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
“Adanya Acara ini dikarenakan, dalam PMII yang sifatnya organisasi kaderisasi maka dibutuhkannya anggota baru dari kalangan mahasiswa untuk membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa pada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu,cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, ini termaktub dalam AD/ART PMII Bab IV pasal 4,” ungkap Faaza.
Sementara itu, Ketua II Bidang Eksternal PMII Komisariat An-Nawawi, Misbachul Anam, menilai santri mempunyai posisi strategis dalam organisasi mahasiswa maupun kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, santri perlu memadukan pemahaman agama dengan kemampuan berpikir kritis dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Menurut saya, santri berperan sebagai penggerak dan pengendali Ahlussunnah waljamaah, intelektual dan penjaga moral dalam organisasi mahasiswa. Santri harus mampu menggabungkan ilmu agama, pemikiran kritis, dan pengabdian kepada masyarakat.
Berdasarkan kitab Muqaddimah Qanun Asasi karya KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi manifesto teologis dan sosiologis tentang pentingnya persatuan (ittihad), persaudaraan (ukhuwwah), dan kerja sama. Beliau menggambarkan masyarakat sebagai satu tubuh yang setiap bagiannya memiliki peran.
Semangat ini sejalan dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945: santri harus memiliki kepedulian terhadap agama sekaligus bangsa,” ucap Anam.
Anam berharap para peserta tidak hanya menjadikan MAPABA sebagai pintu masuk keanggotaan, tetapi juga sebagai awal perjalanan untuk menjadi kader yang berpengetahuan, berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab. Dia juga mendorong kader PMII untuk melanjutkan perjuangan ulama serta mengambil peran dalam menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan.
“Harapan saya, MAPABA tidak sekadar menjadi pintu masuk keanggotaan PMII, tetapi menjadi awal pembentukan kader yang berilmu, berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab terhadap Tugas dan Kewajibannya.
Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi, KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya persatuan dan keterikatan hati dalam mencapai tujuan bersama:
“Sesungguhnya perkumpulan (al-ijtima’) dan saling mengenal (at-ta’aruf), bersatu (al-ittihad) dan kompak (at-ta’alluf) merupakan hal yang tak seorang pun tak mengenali manfaatnya.”
Karena itu, MAPABA harus melahirkan kader yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga meneruskan semangat perjuangan ulama dan santri dalam menjaga persatuan serta mengisi kemerdekaan,” ujar Anam.
Melalui kegiatan MAPABA yang bertepatan dengan Hari Santri, PMII Komisariat An-Nawawi berharap dapat melahirkan kader yang mampu menyelaraskan kehidupan pesantren dengan aktivitas organisasi. Para kader diharapkan mengembangkan ilmu, menjaga akhlak, memperkuat persaudaraan, serta berkontribusi bagi agama, masyarakat, dan bangsa.







