Sejauh Mana Kita Sudah Mencintai dan Meneladani Rasulullah SAW? Refleksi Maulid dan Introspeksi untuk Kehidupan Berbangsa

Oleh: Ulul Albab

insanimedia.id, Surabaya, Indonesia mungkin termasuk negeri yang paling meriah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika Rabiul Awal tiba, salawat bergema di mana-mana. Di masjid, pesantren, kampung, sekolah, kampus, kantor pemerintahan, bahkan di rumah-rumah. Kita menyebut nama Rasulullah dengan penuh cinta. Sebagian kita berdiri ketika mahalul qiyam. Sebagian lagi meneteskan air mata ketika kisah perjuangan beliau dibacakan.

Tetapi setelah peringatan Maulid selesai, bahkan ketika peringatan maulid itu sedang kita selenggarakan, ada pertanyaan yang seharusnya menjadi renungan kita secara nasional: “sejauh mana cara hidup Rasulullah sudah mewarnai dan menginspirasi cara hidup kita dalam berbangsa dan bernegara, terutama bagi yang muslim?

Mengapa pertanyaan ini penting? Karena cinta kepada Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada kerinduan saja. Cinta yang matang selalu melahirkan keinginan untuk mengikuti orang yang dicintainya. Al-Qur’an bahkan menghubungkan cinta kepada Allah dengan mengikuti Rasul-Nya: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu…” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Mari kita telaah sejarah. Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad dikenal sebagai Al-Amiin—orang yang dapat dipercaya. Kejujuran bukan sekadar nasihat yang beliau sampaikan. Kejujuran adalah reputasi hidupnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita bersalawat kepada Rasulullah, tetapi korupsi masih terjadi. Manipulasi masih dilakukan. Kebohongan kadang disebut strategi. Amanah publik dapat berubah menjadi kesempatan memperkaya diri. Bahkan ketidakjujuran kecil terkadang kita toleransi selama menguntungkan kelompok kita sendiri.

Rasulullah juga mengajarkan keadilan yang tidak mengenal kedekatan. Ketika muncul upaya meminta keringanan bagi seorang perempuan terpandang dari Bani Makhzum yang melakukan pencurian, Rasulullah menolaknya. Beliau mengingatkan bahwa kehancuran umat terdahulu terjadi ketika hukum ditegakkan kepada orang lemah, tetapi dilonggarkan kepada orang terpandang. Bahkan beliau menegaskan, seandainya Fatimah putri Muhammad melakukan hal serupa, hukum tetap ditegakkan.

Baca Juga :  Mengulas Ketahanan Nasional Kita: Bukan Sekadar Tahan Banting

Betapa keras cermin itu jika diarahkan kepada kehidupan kita hari ini. Apakah hukum di negeri kita sudah benar-benar tidak mengenal nama, jabatan, kekayaan, hubungan keluarga, kekuatan politik, dan kedekatan dengan kekuasaan?

Lalu, dalam kepemimpinan, Rasulullah menghadirkan dan mempraktekan “rahmah.” Allah menggambarkan beliau sebagai pribadi yang lemah lembut. Sekiranya beliau keras dan berhati kasar, kata Al-Qur’an, orang-orang akan menjauh dari sekelilingnya (QS. Ali ‘Imran: 159).

Rasulullah memimpin, tetapi juga mendengar. Mempunyai kekuasaan, tetapi hidup sederhana. Memiliki otoritas, tetapi bermusyawarah. Beliau tidak membangun kebesaran dengan membuat dirinya semakin jauh dari orang yang dipimpinnya.

Maka Maulid juga perlu menjadi cermin bagi para pemimpin: “apakah kekuasaan membuat kita semakin dekat dengan penderitaan rakyat atau justru semakin jauh darinya?”

Begitu pula dalam dunia usaha. Rasulullah Muhammad SAW pernah menjalani aktivitas perdagangan dan dikenal dapat dipercaya. Jika semangat itu benar-benar kita teladani, bisnis tidak hanya mengejar keuntungan. Tidak ada manipulasi, suap, kecurangan, pengurangan hak pekerja, ataupun keuntungan yang dibangun di atas penderitaan orang lain.

Tetapi kita jangan hanya menunjuk pejabat, penegak hukum, politisi, atau pengusaha. Mari kita semua membawa cermin itu pulang ke rumah kita masing-masing. Rasulullah mengingatkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik kepada keluarganya.” Maka kualitas keberagamaan kita juga terlihat dari cara memperlakukan pasangan, anak, orang tua, tetangga, bawahan, bahkan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Jangan sampai kita sangat santun di depan publik tetapi kasar di rumah. Jangan sampai tangan kita rajin membagikan salawat di media sosial, sementara jemari yang sama mudah menulis penghinaan, fitnah, dan kebencian.

Refleksi Maulid

Bayangkan jika Maulid tahun ini menghasilkan sebuah Gerakan, bahwa: “setiap orang pulang membawa satu akhlak Rasulullah untuk sungguh-sungguh dihidupkan.” Pejabat membawa amanah. Penegak hukum membawa keadilan. Pengusaha membawa kejujuran. Guru dan dosen membawa keteladanan. Politisi membawa kesantunan. Suami dan istri membawa kasih sayang. Anak-anak membawa penghormatan kepada orang tua. Dan pengguna media sosial membawa adab.

Baca Juga :  Seri Kajian Inspiratif Qurban (5) Kiat Menjaga Kemurnian, Keikhlasan, dan Ketakwaan dalam Ibadah Qurban

Jika itu yang terjadi, maka Maulid tidak lagi hanya menjadi “peringatan kelahiran Rasulullah” saja, tetapi sudah menjadi momentum “kelahiran kembali akhlak Rasulullah dalam kehidupan bangsa.”

Kita memang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW. Tetapi semestinya orang lain dapat mengenali ajaran beliau melalui cara kita hidup. Maka di momen Maulid Nabi, barangkali pertanyaan terpenting bukan lagi, “Seberapa besar kita mencintai Rasulullah?” Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam dari itu, yaitu:

‘Jika Rasulullah melihat cara kita bekerja, memimpin, berbisnis, berpolitik, memperlakukan keluarga, menggunakan kekuasaan, dan berbicara kepada sesama—akankah beliau mengenali akhlak beliau di dalam diri kita?”

Mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut namanya. Tetapi, Mencintai Rasulullah adalah menghadirkan kembali akhlak beliau dalam kehidupan kita—agar kehadiran kita menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, umat, dan bangsa.