Apakah Perlu Rukyat untuk Menentukan 1 Muharram?

Oleh: Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

insanimedia.id – Beberapa hari terakhir, menjelang pergantian tahun Hijriah 1448, muncul pertanyaan menarik di tengah masyarakat: Apakah sebenarnya perlu melakukan rukyat untuk menetapkan 1 Muharram?

Pertanyaan ini wajar muncul. Sebab selama ini masyarakat lebih akrab mendengar rukyat hilal menjelang Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha. Sementara untuk Muharram, perhatian publik biasanya tidak sebesar itu.

Padahal secara astronomi, pergantian bulan Muharram juga diawali oleh munculnya hilal sebagaimana bulan-bulan Hijriah lainnya. Karena itulah berbagai lembaga falak, termasuk Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, tetap melakukan pemantauan hilal pada akhir bulan Dzulhijjah.

Lalu, apakah rukyat tersebut benar-benar diperlukan? Jawabannya bergantung pada sudut pandang yang digunakan.

Dari perspektif astronomi modern, posisi bulan dapat dihitung dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Ketinggian hilal, umur bulan, elongasi, hingga kemungkinan keterlihatannya dapat diketahui jauh sebelum hari rukyat tiba. Dengan kemampuan teknologi saat ini, kalender Hijriah bahkan dapat disusun bertahun-tahun ke depan.

Karena itu, sebagian kalangan berpendapat bahwa penetapan awal Muharram tidak selalu memerlukan rukyat secara langsung. Hisab astronomi sudah mampu memberikan kepastian yang sangat akurat.

Namun dari perspektif tradisi keilmuan Islam, rukyat tetap memiliki makna penting. Rukyat bukan sekedar melihat hilal. Tetapi bagian dari warisan ilmu falak yang telah berkembang selama berabad-abad. Melalui rukyat, hasil hisab dapat diverifikasi, data astronomi dapat diperbarui, dan generasi muda dapat belajar memahami hubungan antara syariat dan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks ini, rukyat berfungsi bukan hanya untuk menetapkan tanggal, tetapi juga untuk menjaga kesinambungan tradisi ilmiah umat Islam.

Menariknya, penetapan awal Muharram tidak memiliki implikasi ibadah yang seketat penetapan awal Ramadhan atau Syawal. Tidak ada kewajiban puasa yang langsung bergantung pada terlihat atau tidaknya hilal Muharram. Karena itu, perbedaan metode penetapan biasanya tidak menimbulkan dampak besar dalam praktik ibadah masyarakat.

Baca Juga :  Berbagai Pendapat Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal: Kajian Perbandingan Berbagai Perspektif

Yang jauh lebih penting dari perdebatan metode adalah memahami makna datangnya tahun baru Hijriah itu sendiri. Muharram mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW, sebuah momentum perubahan, pembaruan, dan keberanian meninggalkan keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.

Karena itu, pertanyaan terbesar yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah hilal terlihat atau tidak terlihat. Tetapi, apakah kita telah berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebab hakikat tahun baru Hijriah bukan sekedar pergantian tanggal dalam kalender, tetapi pergantian arah dalam perjalanan hidup. Jika hilal menandai lahirnya bulan baru, maka Muharram seharusnya menandai lahirnya tekad baru untuk menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah SWT dan manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.